Ekspansi Jasa Tambang, LAPD Siapkan Rights Issue Rp100 Miliar

PT Leyand International Tbk bersiap menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue LAPD demi membiayai ekspansi ke sektor jasa pertambangan. Langkah ini dilakukan melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp25 per saham.
Nilai maksimal dari penghimpunan dana melalui aksi korporasi ini diperkirakan mencapai Rp100 miliar.
Jumlah saham baru yang ditawarkan tersebut setara dengan 50,42 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh sebelum pelaksanaan hak tersebut. Keputusan besar ini menjadi bagian dari transformasi bisnis perseroan setelah masuknya PT JSI Sinergi Mas sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan mayoritas sebesar 51 persen. Emiten berkode saham LAPD tersebut kini mengalihkan fokus bisnisnya yang semula bergerak di bidang pembangkit listrik dan perusahaan induk investasi menjadi penyedia jasa pertambangan serta energi.
Upaya penetrasi ke industri kontraktor pertambangan batu bara dan mineral ini diwujudkan dengan rencana akuisisi PT Bersaudara Sinergi Sejahtera atau BSS. Skema transaksi dirancang sedemikian rupa agar PT JSI Sinergi Mas dapat mengeksekusi haknya melalui metode inbreng, yakni penyetoran modal non-kas berupa 59.995 saham BSS.
Penyetoran modal non-kas tersebut setara dengan 99,99 persen kepemilikan pada BSS dengan nilai transaksi yang disepakati sebesar Rp44,39 miliar.
Melalui mekanisme inbreng ini, JSI Sinergi Mas akan mengambil bagian sekitar 1,02 miliar saham baru yang diterbitkan LAPD. Sementara itu, sisa dana tunai yang diperoleh dari pemegang saham publik lainnya akan digunakan seluruhnya untuk mendukung kebutuhan operasional harian. LAPD mengalokasikan dana segar tersebut untuk modal kerja, pelaksanaan kontrak operasional di lapangan, serta biaya perawatan berkala berbagai alat berat pertambangan.
Masuknya pengendali baru juga membawa angin segar bagi struktur manajemen perseroan yang mengalami perombakan total per 31 Maret 2026. Pendiri JSI Sinergi Mas, Jamal Abdul Nasir Bamadhaj, kini resmi menduduki posisi puncak sebagai Direktur Utama untuk menakhodai arah baru bisnis perusahaan.
Perseroan telah menjadwalkan rapat umum pemegang saham luar biasa pada 20 Oktober 2026 untuk memperoleh persetujuan resmi dari para pemegang saham terkait seluruh rencana penambahan modal ini.
Langkah restrukturisasi besar-besaran ini bergulir di tengah kondisi keuangan internal yang sedang mengalami tekanan berat. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, penjualan perseroan pada kuartal pertama tahun 2026 mencatatkan penurunan yang cukup drastis bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi penurunan kinerja operasional dari bisnis lama ini menuntut manajemen untuk bergerak cepat mencari sumber pendapatan baru yang lebih stabil dan menguntungkan.
Seiring dengan fokus baru pada bisnis jasa pertambangan melalui anak usaha barunya, portofolio bisnis lama perseroan tampaknya akan mengalami penciutan skala prioritas. Posisi anak usaha sebelumnya, PT Rusindo Eka Raya yang bergerak di sektor distribusi barang konsumen cepat habis, berpotensi besar untuk tergeser atau dilepas dari struktur konsolidasi grup.
Sektor jasa pertambangan di Indonesia sendiri masih menawarkan prospek yang cukup menjanjikan di tengah tingginya permintaan komoditas mineral dan batu bara global. Banyak emiten energi yang mulai mengalihkan fokus mereka ke sektor pendukung seperti kontraktor tambang guna meminimalkan risiko fluktuasi harga komoditas mentah. Pergeseran strategi yang dilakukan oleh manajemen LAPD ini diharapkan mampu memperbaiki fundamental keuangan perusahaan secara bertahap dalam jangka menengah.
Metode inbreng yang dipilih perseroan juga menjadi solusi efisien untuk memperkuat aset produktif tanpa harus menguras likuiditas kas internal yang saat ini sangat terbatas.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













