Google Rilis Gemini 4 Argon, Model AI dengan Kemampuan Keamanan Siber Unggul

Google resmi meluncurkan Gemini 4 Argon, model kecerdasan buatan terbaru yang diklaim sebagai produk paling mutakhir untuk kebutuhan pemrograman, administrasi perkantoran, dan pertahanan siber.
Peluncuran ini terjadi hanya berselang satu pekan setelah dirilisnya Claude Opus 5.5 dan satu hari setelah kemunculan GPT 6.1 Sol. Kehadiran Gemini 4 Argon menandai persaingan ketat di antara laboratorium AI Amerika Serikat dalam mengembangkan teknologi model bahasa besar.
Dalam pengujian DeepSWE v1.1, yang mengukur kemampuan AI dalam menyelesaikan tugas rekayasa perangkat lunak kompleks di dunia nyata, Argon mencatatkan skor 77,9 persen. Angka tersebut melampaui Claude Opus 5.5 yang meraih 74,2 persen, GPT-6 Astra dengan 74,1 persen, serta Claude Fable 5.1 di angka 67,4 persen.
Peningkatan kapasitas Argon tampak signifikan dibandingkan pendahulunya, Gemini 3.6 Flash, yang pada bulan Juli hanya mampu meraih skor 49 persen. Selain efisiensi, Argon kini mendukung input hingga 1 juta token dalam satu kali respon, melonjak drastis dari batas sebelumnya yang hanya 64.000 token.
Satu token setara dengan tiga perempat kata, sehingga kapasitas baru ini memungkinkan model untuk memproses sekitar 750.000 kata sekaligus. Kemampuan besar ini diharapkan dapat membantu pengguna menangani dokumen panjang secara jauh lebih efektif.
Meski mencatat performa impresif pada 12 dari 18 tolok ukur, Google tetap mengimbau agar data internal tersebut disikapi dengan kehati-hatian. Google mengakui bahwa pihaknya menghitung skor DeepSWE secara mandiri, sementara data pesaing diambil dari papan peringkat publik dan laporan perusahaan.
Fitur paling menonjol dari Argon adalah ketahanannya terhadap serangan injeksi perintah tidak langsung. Serangan ini terjadi ketika pelaku menyembunyikan instruksi jahat di dalam konten yang kemudian dibaca oleh AI, sehingga model bisa saja mengikuti perintah asing tersebut alih-alih perintah pengguna asli.
Pada uji coba Gray Swan, Argon hanya mencatat angka kerentanan sebesar 0,7 persen. Sebagai perbandingan, model lain seperti GPT-6 Astra memiliki tingkat kerentanan 8,5 persen, sementara Grok 4.6 dan Kimi K3 bahkan bisa dimanipulasi hingga lebih dari 50 persen.
Untuk menjaga keamanan, akses terhadap Argon saat ini dibatasi hanya bagi tim keamanan yang telah lolos verifikasi melalui Program Fairwind. Program ini merupakan inisiatif Google yang melibatkan lebih dari 650 mitra, termasuk entitas pemerintah dan operator infrastruktur kritis.
Google sengaja menyediakan model ini tanpa batasan siber bawaan, yang biasanya digunakan untuk menolak permintaan terkait peretasan. Strategi ini diambil agar para pembela keamanan siber dapat berpikir layaknya penyerang untuk menemukan celah sebelum pelaku kriminal memanfaatkannya.
Harga perkenalan untuk layanan ini dipatok sebesar USD 2 (sekitar Rp32.000) per satu juta token input dan USD 10 (sekitar Rp160.000) per satu juta token output. Google belum memberikan keterangan resmi mengenai kapan tarif standar sebesar dua kali lipat dari harga promosi tersebut akan diberlakukan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









