Langsung ke konten
beritana
Breaking

Harapan Kesepakatan Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak Dunia, Menguak Dinamika Konflik AS-Iran

Foto Beritana UpdateBeritana Update4 menit bacaWorld
Trump says Iran will be 'hit very hard' if Hormuz Strait not open soon as oil prices fall
Foto: BBC World

Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan hingga mencapai level terendah dalam tiga minggu terakhir pada Selasa, 8 Agustus 2023. Penurunan ini dipicu oleh optimisme tinggi dari sejumlah pejabat senior Amerika Serikat (AS) yang mengisyaratkan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali jalur air strategis Selat Hormuz.

Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, dan Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, secara terpisah mengumumkan adanya kemajuan dalam perundingan. Mereka berharap pengiriman pasokan minyak dapat dilanjutkan secepatnya pada pekan ini, membawa angin segar bagi pasar global.

Kabar ini segera bereaksi di pasar. Harga minyak mentah Brent, patokan global, merosot hampir 5% menjadi di bawah USD 80 (sekitar Rp1,2 triliun) per barel. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi berkurangnya gangguan pasokan.

Meski demikian, volatilitas masih membayangi pasar minyak. Kegagalan negosiasi sebelumnya dalam meredakan konflik antara AS dan Iran selama beberapa bulan terakhir telah membuat pasar bergejolak, yang pada akhirnya membebani konsumen dengan harga bahan bakar yang lebih tinggi di SPBU.

Bersamaan dengan penurunan Brent, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga anjlok lebih dari 5%, mencapai USD 76 per barel. Kedua kontrak minyak utama ini mencatat level terendah sejak 13 Juli.

Rubio menyatakan bahwa ada kemajuan dalam diskusi dengan Iran dan Oman mengenai peningkatan lalu lintas kapal melalui selat tersebut. “Ada kemajuan dalam pembicaraan itu, tetapi belum final. Kami berharap itu akan terjadi dalam waktu sangat singkat,” ujarnya kepada wartawan di Departemen Luar Negeri.

Sementara itu, Bessent menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa dicapai segera, mungkin pada hari Selasa atau Rabu. Menurutnya, ada peluang untuk mencapai kesepakatan hari ini atau besok guna membuka selat dan bergerak menuju posisi yang lebih normal dalam konflik ini.

Ketika ditanya apakah Iran akan diizinkan memungut biaya dari kapal yang melintas, Bessent menegaskan bahwa hal tersebut akan menjamin kebebasan bergerak. Namun, detail konkret mengenai potensi kesepakatan yang sedang dinegosiasikan ini belum diungkapkan.

Pemerintah Iran, di sisi lain, membantah sedang bernegosiasi langsung dengan AS. Teheran menegaskan pihaknya hanya berkomunikasi dengan Oman, negara yang dikenal sebagai mediator dalam perundingan regional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai mekanisme baru untuk kapal yang melewati Selat Hormuz berlangsung positif. Qatar, mediator kunci antara Washington dan Teheran, juga terus berupaya mencapai resolusi diplomatik, meski belum ada rencana pembicaraan langsung.

Selat Hormuz merupakan titik sentral dalam negosiasi antara AS dan Iran. Sebelum konflik meletus pada akhir Februari, jalur air ini menangani sekitar seperlima dari total pasokan minyak harian global dan gas alam cair.

Sejak konflik dimulai, Iran telah menghentikan sebagian besar lalu lintas melalui selat tersebut, sementara AS juga memberlakukan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran di kawasan itu. Blokade lain juga diterapkan oleh Houthi yang didukung Iran dari Yaman terhadap pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah sejak 20 Juli.

Jalur Laut Merah sendiri sempat menjadi alternatif krusial setelah Selat Hormuz diblokir. Namun, jalur tersebut semakin berbahaya, dengan serangkaian serangan terhadap kapal yang dilaporkan dalam sepekan terakhir, termasuk penenggelaman sebuah kapal berbendera India dekat perairan Yaman pada Selasa.

Analis pasar meyakini ancaman terhadap kapal pengangkut minyak di Timur Tengah berada pada titik terburuk sejak perang Iran dimulai. “Investor sangat menyadari berapa kali kita sudah berada pada titik ini dalam perang dan betapa rapuhnya proses mengamankan perjanjian yang langgeng,” kata Danni Hewson, kepala analisis keuangan di AJ Bell.

Gangguan pasokan ini telah mendorong kenaikan harga bahan bakar di SPBU di seluruh dunia. Di Inggris, harga bensin rata-rata mencapai 1,60 poundsterling per liter, setara dengan awal konflik. Di AS, harga bensin rata-rata di atas USD 4 per galon, dengan diesel mencapai hampir USD 5,40 per galon.

Kenaikan harga ini telah menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan minyak raksasa seperti BP, Shell, Chevron, dan Exxon Mobil. Namun, Hewson menambahkan bahwa meskipun pendapatan besar, perusahaan minyak tetap tunduk pada “manuver” Presiden AS Donald Trump.

Pada Senin, Trump memperingatkan Iran bahwa ini adalah “kesempatan terakhir” untuk menyepakati kesepakatan yang memungkinkan pengiriman komersial dilanjutkan di Selat Hormuz. Ia juga mengaku telah membatalkan serangan “massif” ke negara itu demi memberi ruang untuk perundingan.

Pasar saham AS mencatat kenaikan pada Selasa, menanggapi berita negosiasi yang menurunkan harga minyak dan hasil laporan keuangan perusahaan terkait Kecerdasan Buatan (AI).

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update