ESA Luncurkan Dua Satelit Pemantau Dampak Perubahan Iklim Global

European Space Agency atau ESA sukses meluncurkan dua satelit baru untuk memantau dampak perubahan iklim dari orbit bumi.
Dua satelit bernama Sentinel-3C dan Flex ini dibawa oleh roket Vega-C yang lepas landas dari pusat ruang angkasa Kourou, Guyana Prancis, pada Senin malam waktu setempat. Wahana antariksa tersebut kini telah memasuki orbit sinkron matahari setelah menempuh perjalanan selama dua jam.
Satelit Flex, kependekan dari Fluorescence Explorer, memiliki misi khusus memantau kesehatan tanaman secara presisi di tengah cuaca ekstrem. Satelit ini mendeteksi fluoresensi samar yang dipancarkan tanaman saat melakukan fotosintesis, sebuah proses krusial dalam mengubah sinar matahari serta karbon dioksida menjadi energi.
Data dari Flex memberikan indikasi efisiensi vegetasi dalam bertahan menghadapi tekanan lingkungan. Menurut ESA, pengukuran ini bakal membantu para ilmuwan menilai tingkat produktivitas ekosistem secara lebih akurat.
Misi pengembangan satelit Flex menelan biaya sebesar 350 juta Euro atau sekitar Rp5,9 triliun dengan durasi operasional selama tiga tahun. Satelit ini direncanakan mengelilingi bumi sebanyak 14 kali dalam sehari dengan masa observasi berulang setiap 27 hari.
Sementara itu, satelit Sentinel-3C mengemban tugas mengumpulkan data krusial terkait lingkungan laut. Fokus pengamatan meliputi pemantauan suhu permukaan laut, tinggi gelombang, hingga pergerakan arus samudera yang terdampak pemanasan global.
Selain memantau kondisi kelautan, Sentinel-3C juga ditugaskan untuk mengawasi penggunaan serta tutupan lahan di permukaan bumi. Informasi ini nantinya dioptimalkan untuk memprediksi hasil pertanian demi mencegah potensi krisis pangan global di masa depan.
Satelit Sentinel-3C merupakan bagian dari program Copernicus, sebuah inisiatif pengamatan Bumi yang dikelola oleh Uni Eropa. Program ini menjadi salah satu pilar utama dalam pemantauan kondisi lingkungan skala masif dari luar angkasa.
Direktur Program Pengamatan Bumi ESA, Simonetta Cheli, menegaskan peran krusial teknologi antariksa dalam menghadapi tantangan lingkungan saat ini. Ia menyebut misi tersebut sebagai langkah esensial untuk memahami perubahan iklim yang sedang terjadi secara global.
Pengembangan teknologi ini mencerminkan urgensi pemahaman manusia terhadap perubahan suhu bumi yang semakin tidak menentu. Dengan adanya data satelit yang akurat, berbagai negara dapat merancang strategi mitigasi bencana yang lebih tangguh dan adaptif.
Bagi masyarakat Indonesia, pemantauan melalui satelit semacam ini memberikan wawasan tambahan mengenai pola cuaca regional. Hal tersebut sangat membantu sektor pertanian dan kelautan yang menjadi fondasi ekonomi nasional untuk lebih siap menghadapi anomali iklim tahunan.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








