IHSG dan Rupiah Kian Tertekan di Tengah Sentimen Pasar Keuangan Global

Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa, 29 September 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meluncur 1,00 persen ke level 6.086,35, sementara nilai tukar rupiah terdepresiasi mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Koreksi tajam di pasar domestik dipicu oleh kombinasi sentimen negatif eksternal dan penyesuaian regulasi Bursa Efek Indonesia. Kebijakan baru tersebut menurunkan batas harga minimum saham di pasar reguler dan tunai menjadi Rp1 per lembar.
Tekanan di pasar saham terlihat jelas dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,13 triliun. Pada sesi perdagangan sebelumnya, Senin, 28 September 2026, IHSG telah lebih dulu anjlok 1,51 persen ke posisi 6.147,86.
Kondisi di pasar mata uang tidak jauh berbeda karena rupiah ditutup melemah 0,53 persen ke posisi Rp17.965 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus angka 5,2 persen.
Imbal hasil atau yield adalah tingkat pengembalian investasi yang diperoleh investor dari obligasi, yang jika naik, biasanya menarik dana keluar dari pasar saham menuju pasar surat utang.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memberikan analisis terkait dinamika pasar global yang terus menekan perekonomian domestik. Dia menegaskan bahwa fokus otoritas moneter saat ini tetap pada penjagaan stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan.
Kebijakan moneter akan lebih pro-stability, sedangkan sektor lainnya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ujar Destry Damayanti dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry untuk merespons lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh US$125,53 per barel (sekitar Rp2 juta per barel). Selain itu, ia turut memantau arah suku bunga acuan global yang terus membayangi pasar keuangan dalam negeri.
Pasar obligasi domestik pun mencatatkan kenaikan yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun sebesar 11,3 basis poin ke level 7,196 persen. Situasi ini diperparah dengan kinerja bursa saham Wall Street yang ditutup melemah akibat penurunan di sektor teknologi.
Manajer Portofolio di Gabelli Funds, Justin Bergner, menilai perebutan modal akibat tingginya belanja perusahaan teknologi besar memengaruhi pasar modal secara luas. Ia menyebut yield yang kembali naik secara signifikan hari ini menyebabkan pelemahan pasar saham yang cukup wajar terjadi.
Persaingan kapital tersebut memberikan tekanan tambahan kepada konsumen melalui tingginya suku bunga pinjaman di tingkat global. Pelaku pasar di Indonesia kini mencermati pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2027 serta pergerakan harga energi dunia sebagai arah petunjuk investasi selanjutnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













