Harga Emas Antam 29 September 2026 Anjlok Rp 17.000 per Gram

Harga emas batangan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mengalami koreksi tajam pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Nilai jual emas Antam tercatat melemah Rp 17.000 per gram, setelah pada hari sebelumnya harga komoditas ini juga menyusut Rp 16.000 per gram.
Akumulasi penurunan nilai emas batangan dalam dua hari terakhir ini mencapai Rp 33.000 per gram. Berdasarkan data situs resmi logammulia.com, harga emas Antam saat ini berada di level Rp 2.580.000 per gram, turun dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai Rp 2.597.000 per gram.
Penurunan serupa juga menyasar harga transaksi beli kembali atau buyback.
Nominal buyback terpangkas cukup dalam sebesar Rp 47.000, sehingga pemilik emas hanya akan menerima Rp 2.375.000 per gram jika menjual kembali koleksinya ke Antam. Buyback adalah harga yang diterima pemilik emas saat menjual batangan logam mulia mereka kepada perusahaan.
Fluktuasi harga emas domestik ini tidak lepas dari dinamika pasar global.
Pasar emas internasional sempat mengalami tekanan jual pada perdagangan di Amerika Serikat, Senin malam. Harga emas spot terkoreksi hingga 3,8 persen ke posisi kisaran USD 4.131 per ounce (sekitar Rp 64,5 juta per 31,1 gram).
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun yang menyentuh level 5,23 persen, angka tertinggi sejak tahun 2007. Obligasi adalah surat utang negara yang diterbitkan pemerintah AS, yang saat ini menjadi saingan berat emas dalam menarik minat investor.
Tekanan semakin berat karena kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi risiko di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim strategis di Timur Tengah yang menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak Brent yang menembus USD 4 per barel memicu kekhawatiran inflasi, sehingga pasar berekspektasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober mendatang.
Probabilitas kenaikan suku bunga tersebut kini mencapai 70 persen. Penguatan dolar AS dan kenaikan bunga obligasi membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga, menjadi kurang menarik bagi para pelaku pasar.
Sebagai perbandingan, rekor harga tertinggi emas Antam pernah menyentuh Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026.
Ke depan, pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi PCE dan laporan ketenagakerjaan. Para analis pasar kini memantau ketat indikator-indikator tersebut untuk menentukan arah kebijakan moneter bank sentral AS selanjutnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







