IHSG Terperosok 1,24 Persen Tertekan Sentimen Global dan Kurs Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Indeks utama Bursa Efek Indonesia tersebut ditutup merosot 1,24 persen ke level 6.069,91.
Pelemahan ini dipicu oleh empat faktor utama yang bergerak bersamaan. Tekanan datang dari lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, kenaikan harga minyak mentah dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian geopolitik global.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, menyebut kombinasi suku bunga tinggi dan inflasi persisten masih menghantui investor. Kondisi ini membuat pasar saham cenderung tidak stabil dalam jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik turut menambah beban bagi pergerakan indeks.
Salah satu sorotan utama adalah pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil atau yield Treasury tenor 10 tahun melonjak 1,08 persen ke level 5,243 persen, angka tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Kenaikan yield ini terjadi setelah data sektor manufaktur dan jasa di Negeri Paman Sam menunjukkan penguatan yang signifikan. Kondisi ekonomi yang panas memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober nanti.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kini menyentuh angka 70,3 persen. Situasi ini membuat aset berpendapatan tetap menjadi lebih menarik bagi pemilik modal dibandingkan saham yang memiliki profil risiko lebih tinggi.
Dari sektor energi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,95 persen ke posisi USD 93,29 (sekitar Rp1.676.000) per barel. Kenaikan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran terkait akses Selat Hormuz, sebuah jalur krusial bagi distribusi minyak global.
Pasokan global dianggap belum mampu mengimbangi permintaan meskipun ekspor dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai membaik. Kenaikan harga minyak secara langsung menekan biaya operasional emiten di berbagai sektor.
Di pasar domestik, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,50 persen ke level Rp17.970 per dolar AS. Bank Indonesia sebelumnya telah memutuskan untuk tetap mempertahankan BI Rate di posisi 5,75 persen.
Investor kini lebih selektif dalam memilih saham, terutama yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan mata uang. Selain faktor makro, penyesuaian terkait mekanisme Papan Pemantauan Khusus atau FCA juga memicu reposisi portofolio oleh para pelaku pasar.
Nafan menekankan bahwa koreksi ini tidak hanya dipicu oleh kebijakan domestik seperti harga minimum saham. Tekanan global menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan arah pergerakan pasar saat ini.
Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan kuartal III-2026, khususnya dari sektor perbankan dan konsumer. Kinerja emiten di sektor ini diharapkan mampu menjadi katalis untuk menahan koreksi lebih dalam pada bulan depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor














