{

"title": "MAVI Manfaatkan Booming AI, Tawarkan Solusi Kekurangan Akuntan di AS", "content": "<p>MAVI, sebuah platform talenta berbasis kecerdasan buatan (AI), resmi meluncur dari mode tersembunyi dengan menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi kekurangan tenaga akuntan di Amerika Serikat. Didirikan pada tahun 2023 oleh Molly Liu dan Aman Puri, MAVI berambisi menjembatani perusahaan-perusahaan AS dengan talenta keuangan dan akuntansi global yang mahir AI dalam hitungan hari.</p><p>Pendekatan MAVI muncul sebagai respons terhadap kondisi industri akuntansi AS yang kian menantang. Molly Liu, salah satu Co-CEO MAVI, menjelaskan kepada TechCrunch bahwa profesi akuntansi di Amerika Serikat terus menyusut, dan para profesional yang tersisa pun belum tentu menguasai keterampilan AI yang esensial untuk mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan mereka.</p><p>Di sisi lain, banyak perusahaan di AS masih enggan bekerja sama dengan talenta global.
Alasan utamanya bervariasi, mulai dari kompleksitas dalam proses perekrutan dan pengelolaan hingga keraguan akan kualitas talenta internasional.</p><p>Namun, Liu menegaskan, saat ini telah muncul gelombang baru talenta global yang luar biasa. Standar kemampuan mereka tidak kalah, bahkan bisa lebih baik dari para profesional di AS.</p><p>Inilah celah yang diisi oleh MAVI. Platform ini tidak hanya mempertemukan perusahaan dengan talenta, tetapi juga mengurus berbagai aspek administratif yang sering kali dianggap rumit, seperti manajemen kontrak lintas batas, kepatuhan hukum, dan penggajian.
MAVI berfokus pada penempatan jangka panjang untuk posisi purnawaktu, terutama pada level menengah dan senior, guna melengkapi tim keuangan internal perusahaan.</p><p>Liu, yang memiliki pengalaman di perusahaan teknologi besar seperti Ramp, Lyft, dan Dropbox, menyadari bahwa otomatisasi semata tidak bisa menyelesaikan semua masalah dalam akuntansi. Justru, AI akan mengotomatisasi banyak peran tingkat pemula di bidang keuangan dan akuntansi.</p><p>Kondisi ini, menurut Liu, justru akan memperparah kekurangan talenta di tingkat pengalaman menengah. Ini terjadi karena semakin sedikit talenta tingkat pemula yang akan berkembang ke level menengah seiring berjalannya waktu.</p><p>Dengan demikian, tak peduli berapa banyak alat AI yang dirilis untuk mengotomatisasi pekerjaan dasar, perusahaan tetap memerlukan sumber daya manusia berpengalaman untuk membuat keputusan krusial.












