Jika Kamu Masih Memilih Orang yang Terus Menyakitimu, Biarkan Skenario Tuhan yang Mengambil Alih Sisanya

Kamu baru saja meletakkan ponsel, tapi dadamu masih terasa sesak.
Dia datang lagi dengan permintaan maaf yang sama, dan seperti biasa, kamu membukakan pintu lagi tanpa banyak tanya. Kamu tahu betul rasanya hancur berkali-kali karena orang yang sama, tapi entah kenapa kamu belum bisa berhenti.
Rasanya aneh ya, sudah tahu api itu panas, tapi kamu tetap ingin mendekat hanya karena butuh kehangatannya sebentar saja. Kamu nggak sendirian kalau merasa bingung dengan pilihanmu sendiri, karena perasaan memang nggak pernah punya logika yang rapi. Kita seringkali lebih takut kehilangan kehadirannya daripada kehilangan ketenangan diri kita sendiri yang sebenarnya jauh lebih berharga.








