
Kamu pasti sering dengar kalau waktu adalah obat dari segala luka.
Masalahnya, kamu sudah menunggu berbulan-bulan tapi rasanya masih sama sesaknya seperti hari pertama dia pergi. Wajar kalau kamu merasa dibohongi oleh pepatah lama yang sering diucapkan orang-orang di sekitarmu itu.
Waktu itu sebenarnya netral.
Dia cuma berjalan terus tanpa peduli kamu lagi menangis di pojokan kamar atau lagi tertawa palsu di depan teman-teman kantormu. Menunggu waktu menyembuhkan luka itu rasanya mirip seperti menunggu luka di lutut kering tapi kamu membiarkan kotorannya tetap menempel di sana.
Bukannya kering, yang ada malah makin infeksi dan meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam di hati kamu.
Kamu harus mau bergerak sendiri.
Sembuh itu sebuah pilihan yang diambil setiap hari, bukan hadiah gratis yang tiba-tiba jatuh dari langit setelah kalender berganti tahun. Kamu perlu membasuh lukamu sendiri, meski rasanya perih bukan main saat harus menyentuh bagian yang paling ingin kamu lupakan.
Membiarkan luka tanpa diobati itu berbahaya.
Kalau kamu cuma diam dan berharap rasa sakit itu hilang sendiri, kamu sebenarnya cuma lagi menabung kesedihan untuk masa depanmu. Luka yang tidak dibersihkan bakal tetap ada di sana, siap meledak kapan saja saat ada pemicu kecil yang mengingatkanmu pada kenangan pahit itu.
Kamu berhak mendapatkan ketenangan yang nyata, bukan cuma pura-pura lupa karena sudah kelelahan menunggu jam berputar.
Cintai dirimu sedikit lebih banyak.
Berusaha sembuh berarti kamu mulai menghargai masa depanmu lebih dari masa lalu yang sudah berantakan dan tidak bisa diubah lagi itu. Memang tidak mudah untuk bangun dan mulai berjalan lagi saat kakimu masih terasa berat karena beban rindu yang tidak ada ujungnya.
Tapi ingat, setiap langkah kecil yang kamu ambil untuk memaafkan keadaan adalah obat yang jauh lebih manjur daripada seribu tahun menunggu keajaiban.
Kamu pasti bisa melewatinya pelan-pelan.
Nanti akan ada hari di mana kamu bangun tidur dan tidak lagi mencari namanya di daftar notifikasi ponselmu saat pertama kali membuka mata. Saat momen itu tiba, kamu akan sadar bahwa yang menyelamatkanmu bukan cuma waktu yang lewat, tapi keberanianmu untuk membiarkan diri sendiri sembuh dan mulai bernapas dengan lega lagi.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor