Kasus ISPA di Kota Pekalongan Melonjak 13,1 Persen Selama Musim Kemarau

Dinas Kesehatan Kota Pekalongan melaporkan adanya kenaikan signifikan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayahnya.
Hingga pekan ke-38 tahun 2026, tercatat sebanyak 2.513 kasus ISPA yang telah ditangani oleh fasilitas kesehatan setempat. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 13,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 yang mencatatkan 2.222 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti, mengonfirmasi bahwa tren peningkatan tersebut mulai terlihat jelas sejak pertengahan September. Ia menjelaskan bahwa selisih jumlah kasus antara tahun ini dan tahun sebelumnya terus melebar seiring dengan durasi musim kemarau yang panjang.
Kondisi cuaca kering yang membawa banyak debu di udara dianggap sebagai faktor utama yang memicu gangguan pernapasan bagi warga. Puji menuturkan bahwa paparan debu berlebih sering kali terjadi pada makanan atau jajanan terbuka yang dikonsumsi masyarakat di tengah cuaca panas.
Kebiasaan warga dalam mencari minuman dingin selama suhu udara meningkat juga menambah risiko kesehatan yang ada. Meski demikian, pihak Dinas Kesehatan menegaskan bahwa lonjakan angka ini masih dalam kategori terkendali dan tidak menyebabkan beban berlebih pada fasilitas rumah sakit di Kota Pekalongan.
ISPA sendiri merupakan infeksi yang menyerang sistem pernapasan manusia. Gejala umum yang sering muncul meliputi demam, batuk kering, sakit tenggorokan, nyeri sendi, hingga kelelahan ekstrem akibat penurunan daya tahan tubuh.
Puji menekankan bahwa banyak pasien ISPA yang berhasil pulih setelah mendapatkan penanganan dasar di puskesmas. Sistem rujukan berjenjang juga diterapkan untuk memastikan setiap pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakit yang diderita.
Warga yang mengalami gejala batuk atau demam selama lebih dari tiga hari diimbau untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Langkah ini diperlukan agar pemberian obat dapat dilakukan sesuai dengan standar medis yang berlaku sebelum kondisi kesehatan menurun lebih jauh.
Pemerintah kota pun meminta seluruh lapisan masyarakat untuk tidak panik menghadapi situasi tersebut. Meskipun kondisi saat ini masih tergolong aman, upaya menjaga imunitas tubuh dan kebersihan lingkungan tetap menjadi kunci utama dalam meminimalisir penyebaran infeksi selama musim kemarau berlangsung.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor










