Kebakaran Hutan Maut Landa Aljazair Utara, Tewaskan Belasan Orang di Tengah Gelombang Panas Ekstrem

Kebakaran hutan dahsyat telah melanda wilayah utara Aljazair, menyebabkan sedikitnya 12 orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Insiden tragis ini terjadi di tengah gelombang panas ekstrem yang menyelimuti kawasan Afrika Utara, memperparah intensitas dan kecepatan penyebaran api.
Otoritas perlindungan sipil Aljazair melaporkan bahwa puluhan titik api telah membakar sejumlah provinsi di sepanjang pesisir utara negara itu. Kobaran api yang cepat meluas menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga dan infrastruktur.
Menteri Dalam Negeri Said Sayoud menyatakan pada Rabu malam, setidaknya 54 orang menderita luka bakar, dengan enam di antaranya harus menjalani perawatan intensif. Kondisi para korban menunjukkan betapa ganasnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana ini.
Baca Juga:
- ESDM Kirim 48 Genset ke Puskesmas NTT, Tingkatkan Layanan Medis
- Kemenag Bantah Keras Isu Mundurnya Menag Nasaruddin Umar untuk PBNU
- Prabowo Targetkan Karhutla RI Tuntas dalam Dua Pekan, Waspada El Nino
Gelombang panas parah menjadi pemicu utama kebakaran hutan di Aljazair dan Tunisia. Fenomena ini telah mengubah kondisi lingkungan menjadi sangat kering, menciptakan tumpukan bahan bakar alami yang mudah terbakar.
Sayoud merinci korban tewas tersebar di beberapa lokasi; lima orang meninggal di Provinsi Jijel, empat di Bejaia, dan tiga lainnya di Tizi Ouzou. Angka tersebut kemungkinan dapat bertambah seiring upaya penanganan dan pencarian yang terus berlangsung.
Untuk meninjau langsung upaya pemadaman dan evakuasi, Sayoud telah bertolak ke Bejaia bersama Menteri Kesehatan Aljazair Mohamed Seddik Ait Messaoudene. Kunjungan ini menggarisbawahi keseriusan pemerintah dalam merespons krisis tersebut.
Ribuan warga di Bejaia dan Jijel terpaksa mengungsi dari rumah mereka demi keselamatan, sesuai laporan dari badan perlindungan sipil dan media lokal. Sejumlah rekaman yang dibagikan oleh penyiar lokal Jijel News menampilkan pemandangan mengerikan warga mencari perlindungan di sebuah kantor pos, dikelilingi kepulan asap tebal.
Pada Rabu malam sebelumnya, badan perlindungan sipil mengungkapkan bahwa para petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan 69 titik api di seluruh negeri. Upaya heroik terus dilakukan di tengah kondisi medan yang sulit dan cuaca ekstrem.
Tragedi ini mengingatkan pada kebakaran serupa tiga tahun lalu, ketika wilayah Bejaia juga hancur akibat api yang melalap hutan dan lahan pertanian, menewaskan 30 orang. Peristiwa berulang ini menunjukkan kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana kebakaran.
Bulan lalu, pihak berwenang mencatat setidaknya enam kematian yang disebabkan oleh kebakaran, dengan kru pemadam berjuang melawan lebih dari 2.000 titik api di Aljazair hanya pada bulan Juli. Statistik ini menggambarkan skala tantangan yang dihadapi negara tersebut setiap musim panas.
Meskipun Aljazair secara rutin mengalami kebakaran hutan di bulan-bulan musim panas, perubahan iklim telah memperparah intensitas dan tingkat keparahan kebakaran baru-baru ini. Peningkatan suhu global memainkan peran krusial dalam fenomena ini.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyoroti bahwa panas ekstrem telah menjadi hal lumrah di Afrika Utara, sebuah wilayah yang mengalami pemanasan tercepat di antara enam sub-wilayah Afrika, dengan peningkatan 0,43 derajat Celcius per dekade antara tahun 1991 dan 2025. Data ini mengindikasikan tren pemanasan yang mengkhawatirkan.
Tidak hanya manusia, dampak kenaikan suhu dan kelangkaan air juga memicu peningkatan kematian unta selama gelombang panas musim panas di Aljazair, demikian diungkapkan sebuah studi terbaru. Fenomena ini menegaskan bahwa bahkan hewan yang teradaptasi dengan gurun pun kini kesulitan bertahan.
Situasi ini menekankan urgensi tindakan global untuk mitigasi perubahan iklim dan adaptasi lokal guna melindungi komunitas yang paling rentan. Aljazair, seperti banyak negara lain di garis depan krisis iklim, menghadapi tantangan berat yang memerlukan respons komprehensif.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor












