
ISLAMABAD, Pakistan — Sebuah kebakaran dahsyat melanda bangsal bersalin di rumah sakit utama Pakistan, Institute of Medical Sciences (PIMS), Islamabad, pada Rabu pagi, 12 Juni 2024. Insiden memilukan ini merenggut nyawa 14 bayi yang baru lahir, memicu gelombang duka dan pertanyaan serius mengenai standar keselamatan.
Orang tua dan saksi mata di lokasi kejadian mengklaim mereka harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bantuan, sementara pintu ke bangsal bersalin dilaporkan terkunci. Kejadian ini menambah daftar panjang tragedi kebakaran di Pakistan yang sering dikaitkan dengan regulasi keselamatan yang lemah.
Hivsa Walid, salah satu saksi mata, berada di dekat ruangan tersebut bersama iparnya yang baru melahirkan beberapa hari sebelumnya. Ia awalnya mendengar teriakan dan mengira ada pasien yang meninggal, namun tak lama kemudian ia melihat kepulan asap tebal.
Baca Juga:
Bersama iparnya, Walid segera melarikan diri sambil membawa bayi mungil yang bahkan belum diberi nama itu. Mereka tidak memikirkan barang-barang pribadi, fokus utama adalah menyelamatkan nyawa bayi tersebut di tengah kekacauan.
“Kami bahkan tidak memikirkan barang-barang kami. Kami hanya mengambil bayi itu dan bergegas turun,” kata Walid, menggambarkan kepanikan saat itu. “Beberapa pasien baru saja melahirkan bayi mereka malam itu. Saya bahkan tidak tahu bagaimana kami berhasil turun, semuanya buram.”
Kebakaran tersebut, menurut laporan awal, bermula dari unit pendingin udara di lantai tiga bangsal ibu dan anak PIMS, salah satu rumah sakit milik negara terbesar di ibu kota Pakistan. Dari 15 bayi yang berada di sana, hanya satu yang berhasil diselamatkan.
Khurram Mehmood, 40 tahun, yang kehilangan putrinya yang baru berusia tiga hari, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penantian untuk petugas penyelamat terasa sangat lama. “Saya kehilangan putri saya. Dia baru berusia tiga hari,” ujarnya dengan nada pilu.
Jaweria, ibu korban lainnya, juga memberikan kesaksian serupa kepada AFP, menegaskan bahwa pintu bangsal bersalin itu terkunci rapat. “Selama dua jam saya terus menangis dan meratap,” kenangnya. “Polisi tiba setelah empat jam dan mengatakan mereka di sini untuk menyelidiki.”
Ia mempertanyakan alasan para dokter meninggalkan anak-anak di sana. “Persetan dengan kalian, tim penyelamat dan polisi. Bayi-bayi terbakar sampai mati di sana, tapi tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka.”
Rana Imran Sikander, direktur eksekutif rumah sakit, menampik klaim bahwa pintu bangsal terkunci. Kepada BBC, ia menjelaskan bahwa pintu tersebut dijaga oleh petugas, bukan dikunci, untuk melindungi bayi dari penculikan, sebuah insiden yang pernah terjadi di rumah sakit pemerintah sebelumnya.
Meskipun PIMS merupakan rumah sakit besar, Walid menyiratkan bahwa protokol keselamatannya tidak memadai. “Seharusnya ada alat pemadam api dan protokol, tetapi tidak ada yang melakukan apa-apa, semua orang hanya berlarian,” kritiknya.
Ayah dari salah satu bayi yang meninggal mengatakan kepada Reuters bahwa selama delapan hari kunjungannya, bangunan tersebut tidak memiliki “keamanan kebakaran, tidak ada pintu keluar yang layak”. Ia menambahkan, “Semua pintu tertutup, hanya ada satu pintu untuk kami mengunjungi anak-anak kami. Mereka mengunci pintu lain karena khawatir kami akan terlalu sering datang menjenguk anak-anak kami.”
Sejumlah saksi mata juga mengklaim bahwa tidak ada staf yang bertugas di lokasi kejadian saat kebakaran berlangsung. Seorang saksi yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada AFP bahwa orang-orang harus “mendobrak pintu” dan tim penyelamat terpaksa memecahkan jendela untuk mengendalikan api.
Abdul Ghafoor, saksi lain, mencoba masuk ke gedung untuk menyelamatkan pasien namun tidak bisa mencapai bangsal bersalin. “Ada asap hitam pekat di dalam dan pasien terjebak,” katanya, menambahkan bahwa tim penyelamat tiba hampir dua jam kemudian.
Namun, Kepala Komisioner Islamabad, Sohail Ashraf, menyatakan kepada AFP bahwa tim penyelamat tiba di lokasi “segera” setelah panggilan darurat pertama kali diterima. PIMS sendiri adalah salah satu rumah sakit terbesar di ibu kota Pakistan, dengan 156 tempat tidur di unit kesehatan ibu dan anak.
Pakistan telah menghadapi sejumlah kebakaran besar dalam beberapa tahun terakhir, dengan seringnya disalahkan pada undang-undang keselamatan yang buruk, kode bangunan yang longgar, dan penegakan hukum yang lemah, yang menyebabkan angka kematian tinggi. Contohnya, pada Januari tahun ini, puluhan orang tewas dalam kebakaran di sebuah pusat perbelanjaan Karachi, dengan korban selamat menyebut pintu keluar yang terkunci sebagai salah satu faktor utama.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif telah menyatakan “kesedihan mendalam dan penyesalan tulus” atas musibah terbaru ini. Ia menginstruksikan pihak berwenang untuk “melakukan penyelidikan segera,” sebagaimana disampaikan dalam pernyataan dari kantornya. PM Sharif juga telah mencopot Sekretaris Kesehatan Federal Aslam Ghauri, seorang pejabat tinggi di departemen kesehatan.
“Situasi seperti ini dengan anak-anak tidak dapat diperbaiki,” bunyi pernyataan tersebut. Tragedi ini kembali menyoroti urgensi perbaikan infrastruktur dan protokol keselamatan di fasilitas publik Pakistan.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor