
Sektor pinjaman kripto tengah mengalami tren kebangkitan yang signifikan setelah melewati kuartal kedua yang cukup suram. Data terbaru menunjukkan nilai total aset yang terkunci dalam protokol pinjaman telah melonjak lebih dari 55 persen sejak awal Juli, kini mencapai angka di kisaran USD 56 miliar atau setara Rp870 triliun.
Pertumbuhan pesat ini menarik perhatian besar di tengah kekhawatiran baru mengenai ancaman keamanan siber yang semakin canggih. Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam aksi peretasan protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) menjadi tantangan nyata bagi ekosistem aset digital.
Krisis kepercayaan sempat melanda pasar pada kuartal kedua, ditandai dengan keluarnya modal sebesar USD 11,33 miliar atau sekitar Rp176 triliun dari sektor ini. Pemicu utamanya adalah insiden peretasan Kelp DAO pada April lalu yang menyebabkan pengguna protokol Aave kesulitan mengakses aset Ethereum mereka.
Pendiri dan CEO Aave Labs, Stani Kulechov, menegaskan bahwa keamanan kini tidak bisa lagi hanya berfokus pada kontrak pintar semata. Pihaknya mengadopsi pendekatan holistik yang mencakup jembatan antar jaringan, jaringan verifikator, hingga infrastruktur pendukung aset lainnya.
Ancaman dari peretasan lintas jaringan memang sangat berbahaya bagi sistem yang saling terhubung dalam DeFi. Sebagai contoh, peretasan pada Kelp DAO menciptakan token rsETH tanpa jaminan senilai sekitar USD 290 juta, atau Rp4,5 triliun, yang kemudian digunakan sebagai jaminan di pasar Aave untuk meminjam aset lain.
Meski kontrak Aave sendiri tidak ditembus, protokol tersebut tetap mengalami penarikan deposit besar-besaran dan harus membekukan pasar rsETH demi menjaga stabilitas sistem. Kejadian ini membuktikan bagaimana satu celah pada satu protokol dapat memicu efek domino yang merusak protokol lainnya.
Menghadapi risiko ini, sejumlah pelaku industri mulai memperketat prosedur operasional dan manajemen risiko secara mendalam. Sam MacPherson, CEO Spark, menyatakan bahwa timnya kini meninjau secara mendetail desain tata kelola, kualitas jaminan, hingga manajemen likuiditas di seluruh ekosistem.
Beberapa protokol bahkan mulai melakukan evaluasi berkala terhadap aset yang didukung dan tidak segan untuk menghentikan operasional pada jaringan yang tidak memenuhi standar keamanan ketat. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi agar risiko yang ditanggung tetap dalam kendali pengembang.
Di sisi lain, AI kini mulai dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat pertahanan protokol melalui pengujian mutasi secara sistematis. Aave misalnya, menggunakan AI untuk menyuntikkan bug ke dalam kode V4 guna menguji ketahanan sistem mereka terhadap serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, AI tetap merupakan pedang bermata dua yang harus dikelola dengan hati-hati. Kehadiran agen AI yang nantinya mengelola modal di atas blockchain akan menciptakan titik akses baru yang memerlukan pengamanan ekstra, mirip dengan perlindungan pada kontrak pintar konvensional.
Bagi investor, memahami eksposur risiko terhadap setiap jembatan dan oracle yang menghubungkan aset tetap menjadi hal yang sangat utama. Kehati-hatian dalam menempatkan dana pada platform DeFi akan terus menjadi kunci utama di tengah dinamika pasar yang kian kompleks.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor