
Harga Bitcoin kembali menghadapi tekanan jual yang cukup signifikan setelah sempat menyentuh angka di bawah USD 81.000 atau sekitar Rp1,27 miliar.
Penurunan nilai aset kripto tersebut terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik menyusul laporan mengenai potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran para investor global terhadap stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Data dari platform perdagangan TradingView menunjukkan bahwa BTC/USD merosot ke posisi USD 81.000 di bursa Bitstamp, yang merupakan level terendah sejak 21 September lalu. Pergerakan harga ini membuat Bitcoin kini berada dalam posisi rentan setelah gagal mempertahankan level dukungan teknis utama di angka USD 82.500.
Seiring dengan eskalasi konflik yang membayangi, harga minyak dunia pun mengalami lonjakan harga yang cukup tajam. Minyak mentah jenis WTI dilaporkan mencapai USD 93,20 per barel, sementara minyak Brent menembus angka USD 105,88 per barel di pasar komoditas internasional.
Minyak mentah sendiri merupakan sumber energi fosil utama yang digunakan secara global untuk sektor transportasi dan industri manufaktur. Kenaikan harga komoditas ini sering kali menjadi sinyal peringatan bagi pasar keuangan karena berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi di banyak negara.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan mengenai perkembangan diplomasi dengan Iran saat menghadiri sebuah kampanye di San Antonio, Texas. Ia menyebut bahwa utusan khusus Timur Tengah, Steve Witkoff, telah menjalin komunikasi untuk membahas kesepakatan damai.
Namun, Trump secara terbuka mengakui bahwa dirinya tidak terlalu berminat pada hasil diplomatik tersebut. Ia justru menyatakan keinginannya agar konflik yang terjadi di wilayah tersebut dapat segera diakhiri dengan cara yang pasti.
Pasar keuangan tidak hanya bereaksi terhadap berita geopolitik, tetapi juga mencermati kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Gubernur The Fed, Christopher Waller, memberikan pernyataan bahwa kenaikan suku bunga lanjutan diperlukan demi menekan angka inflasi agar kembali ke target 2 persen.
Menurut data dari FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 0,25 persen pada pertemuan bulan Desember kini telah melampaui 70 persen. Hal ini mencerminkan sikap pasar yang semakin waspada terhadap kebijakan pengetatan moneter yang agresif di masa depan.
Secara teknis, banyak pelaku pasar saat ini sedang menanti arah pergerakan harga Bitcoin selanjutnya di sekitar level USD 82.500. Analis pasar Rekt Capital menyatakan bahwa harga tersebut merupakan titik penentu bagi pembentukan struktur pasar Bitcoin ke depan di tengah fase transisi yang sedang berlangsung.
Dampak dari penurunan harga Bitcoin ini pun merembet ke pasar kripto yang lebih luas, di mana likuidasi posisi long mencapai USD 430 juta atau sekitar Rp6,7 triliun. Angka tersebut mencerminkan tingginya volatilitas yang harus dihadapi oleh para trader dalam kondisi pasar yang tidak menentu saat ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor