
Dana Moneter Internasional atau IMF mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi risiko sistemik yang dibawa oleh pasar tokenisasi aset terhadap sistem keuangan global.
Lembaga tersebut menilai bahwa meskipun tokenisasi menawarkan efisiensi dalam transaksi dan penyelesaian aset, infrastruktur ini justru memicu kerentanan baru yang bisa mengguncang stabilitas pasar keuangan. Pasar tokenisasi sendiri merupakan proses digitalisasi aset nyata, seperti saham atau obligasi, ke dalam bentuk token di atas teknologi buku besar terdistribusi atau blockchain.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa pasar tokenisasi saham saat ini jauh lebih tidak likuid dibandingkan dengan pasar tradisional. Volatilitas di pasar ini tercatat mencapai 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan instrumen investasi konvensional yang sudah mapan.
Minat investor terhadap aset tokenisasi meningkat seiring keinginan untuk melakukan perdagangan selama 24 jam penuh. Tren ini menarik bagi mereka yang mencari kepemilikan fraksional atau pembagian aset dalam porsi kecil, namun kondisi ini membawa tantangan tersendiri bagi pengelola bursa.
Data menunjukkan bahwa lebih dari setengah volume perdagangan ekuitas tokenisasi terjadi di luar jam operasional bursa Amerika Serikat. Sekitar 80 persen dari total transaksi tersebut melibatkan volume di bawah satu lembar saham per perdagangan.
IMF menyoroti keterbatasan skala pasar tokenisasi saat ini yang masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total pasar modal global yang mencapai sekitar USD 300 triliun atau setara Rp4.700 kuadriliun. Aset dunia nyata atau real-world assets yang sudah ditokenisasi hingga Juli lalu baru mencapai angka USD 65 miliar atau sekitar Rp1.020 triliun.
Kesenjangan besar juga terlihat pada volume transaksi harian instrumen pasar uang. Tokenisasi perjanjian pembelian kembali atau repo hanya mencatatkan volume USD 300 miliar hingga USD 350 miliar, sangat jauh di bawah pasar repo Amerika Serikat yang mencapai USD 13 triliun per hari.
Risiko yang mungkin timbul akibat pertumbuhan ini adalah potensi efek domino, aksi jual paksa, serta krisis likuiditas yang meluas. Interkoneksi yang semakin dalam antara sistem keuangan tradisional dan platform tokenisasi dapat mempermudah penularan risiko keuangan saat terjadi guncangan pasar.
Otoritas pasar keuangan di Eropa, melalui European Securities and Markets Authority, turut menyuarakan kekhawatiran serupa mengenai integrasi aset kripto dengan keuangan konvensional. Mereka khawatir hubungan yang makin erat ini menjadi celah bagi penyebaran kejutan pasar ke sektor lain.
IMF mendesak perlunya kerangka hukum yang lebih jelas dan standar operasional yang seragam antar-platform. Pengaturan yang ketat akan menentukan masa depan industri ini lebih dari sekadar kemampuan teknis blockchain itu sendiri.
Kepercayaan pasar menjadi fondasi yang harus dibangun sebelum teknologi ini diadopsi secara luas oleh institusi keuangan besar dunia. Tanpa pengawasan yang memadai, potensi transformasi keuangan melalui tokenisasi bisa terhambat oleh risiko stabilitas yang belum terpetakan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor