Kepercayaan Publik RI terhadap Media Sosial Merosot Drastis, Ini Pemicunya

Tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap pengaruh media sosial dalam demokrasi mengalami penurunan tajam dalam tiga tahun terakhir.
Laporan survei Pew Research Center yang dirilis pada 1 Oktober 2026 menunjukkan pergeseran persepsi yang signifikan di kalangan warga Indonesia dibandingkan data tahun 2023. Sebanyak 43 persen responden kini menilai media sosial berdampak buruk bagi demokrasi, meningkat drastis dari angka 24 persen pada survei sebelumnya.
Penurunan tajam tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang kontras dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Data mencatat hanya 27 persen warga Malaysia dan 22 persen warga Singapura yang menganggap media sosial merugikan demokrasi. Padahal, tiga tahun lalu, Indonesia mencatatkan angka 64 persen warga yang meyakini media sosial memberikan dampak positif bagi kehidupan bernegara.
Dinamika ini mencerminkan fenomena di mana masyarakat merasakan manfaat akses informasi yang lebih luas, namun sekaligus khawatir akan dampak negatifnya. Berdasarkan data Pew, 77 persen warga Indonesia setuju media sosial mempermudah jangkauan berita peristiwa terkini. Namun, 66 persen responden secara gamblang menyatakan platform tersebut mempermudah penyebaran informasi menyesatkan atau hoaks.
Perpecahan pandangan politik di tengah masyarakat juga menjadi sorotan utama dalam temuan lembaga tersebut. Setidaknya 55 persen responden merasakan dampak nyata berupa polarisasi politik yang semakin tajam akibat penggunaan media sosial. Situasi ini berbeda dengan negara seperti Filipina atau Thailand, di mana tingkat kepercayaan terhadap sisi positif media sosial masih bertahan di atas 70 persen.
Para analis melihat bahwa keterlibatan media sosial dalam berbagai peristiwa politik domestik menjadi faktor utama penyebab perubahan pandangan publik di tanah air. Narasi yang memecah belah dan arus informasi yang tidak terverifikasi cenderung mendominasi ruang digital saat momentum pemilihan umum. Dampak langsung dari kebisingan digital tersebut kemudian dirasakan secara personal oleh warga.
Perbedaan respons antar generasi juga terlihat jelas dalam survei ini. Kelompok usia muda cenderung lebih optimis memandang ruang digital sebagai sarana partisipasi. Sementara itu, kelompok usia yang lebih dewasa merasa lebih waspada terhadap arus informasi yang tidak terkendali. Kesenjangan pengalaman ini menunjukkan bagaimana media sosial membentuk persepsi yang berbeda tergantung pada latar belakang pengguna.
Meski masih ada mayoritas yang menganggap media sosial memiliki sisi positif, kecepatan pergeseran pandangan ke arah negatif menjadi catatan penting. Hal ini mengindikasikan adanya tantangan serius dalam menjaga ruang publik agar tetap sehat di tengah ketergantungan masyarakat pada platform digital. Kepercayaan yang mulai luntur menjadi sinyal bahwa literasi digital dan regulasi informasi kini sangat dibutuhkan oleh publik.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor
















