Ketegangan Houthi: Ancaman Konflik Yaman dan Jalur Laut Merah

Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meningkatkan risiko konflik berskala penuh di Yaman. Eskalasi ini juga mengancam stabilitas jalur pelayaran vital di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, menekan Arab Saudi secara signifikan.
Baru-baru ini, milisi Houthi menyerang kapal tanker minyak mentah di Laut Merah lepas pantai Arab Saudi. Peristiwa ini menyusul serangan sebelumnya terhadap infrastruktur minyak Saudi dan kapal lain, mengganggu rute ekspor minyak alternatif dari Teluk.
Pengamat konflik Yaman, Hisham Al-Omeisy, menyebut Houthi berupaya melemahkan kontrol pemerintah atas wilayah pesisir Laut Merah. Mereka menginginkan kendali penuh atas Kegubernuran Al-Hudaydah untuk menekan perdagangan maritim global.
Baca Juga:
- Dilema Jet Fuel Nigeria: Berlimpah untuk Eropa, Langka di Negeri Sendiri
- Zambia Pasca-Pemilu: Demokrasi di Ujian Berat, Akses Keadilan Terhambat
- AS Perketat Sanksi Iran, MA Restui Pembatasan Pemilu Jarak Jauh
Strategi Houthi juga didorong keinginan memperoleh konsesi tambahan dari Arab Saudi pasca-gencatan senjata 2022. Selain itu, serangan ini berfungsi mengalihkan perhatian dari kegagalan mereka memenuhi janji reformasi domestik, dengan alasan sibuk perang yang lebih luas. Al-Omeisy menambahkan, Houthi telah belajar pelajaran dari cara Iran berhasil mendominasi Selat Hormuz.
Alice Gower dari Azure Strategy menyatakan, Arab Saudi menginginkan Laut Merah yang lebih aman tanpa terjebak perang baru di Yaman. Prioritas Riyadh adalah melindungi transformasi ekonomi Vision 2030 yang terancam serangan Houthi. Serangan tersebut meningkatkan biaya asuransi, menghalangi investor, dan mengganggu infrastruktur penting.
Saudi memperbarui kebijakan pertahanannya, memimpin Aliansi Pertahanan Maritim multinasional dengan lebih dari 14 negara. Mereka juga bergabung dengan pakta pertahanan dengan Pakistan dan Turki, meski efektivitas operasionalnya masih dipertanyakan analis. Mohammed al-Basha skeptis, menyatakan koalisi ini tidak akan menghindarkan Saudi dari perang di Yaman.
Kondisi kemanusiaan di Yaman sangat memprihatinkan, dengan lebih dari separuh populasi membutuhkan bantuan kemanusiaan. PBB telah memperingatkan agar tidak kembali ke konflik skala penuh. Peraih Nobel Perdamaian Tawakkol Karman menekankan pentingnya mengatasi akar krisis: runtuhnya negara Yaman dan pelemahan institusinya. Ia menganggap hasil Dialog Nasional sebagai peta jalan paling realistis menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor










