Konflik Arab Saudi Houthi Memanas, Bayang-Bayang Perang Baru di Timur Tengah

Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok milisi Houthi di Yaman kini berada di ambang konfrontasi militer yang berisiko memicu perang baru di Timur Tengah. Serangan beruntun kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah memaksa Riyadh mempertimbangkan kembali opsi militer yang sempat mereka hindari.
Sejumlah analis menilai eskalasi terbaru ini berpotensi merusak proses perdamaian Yaman yang telah diupayakan selama beberapa tahun terakhir.
Kelompok Houthi, yang didukung oleh Iran, meningkatkan intensitas serangan mereka dengan menggunakan pesawat tanpa awak dan rudal. Tindakan ini memicu reaksi keras dari koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat yang beroperasi di wilayah perairan tersebut. Riyadh kini berada dalam posisi dilematis karena harus melindungi wilayahnya sekaligus menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga:
- WNA Prancis Konten Kreator Asusila di Bali Resmi Dideportasi
- Tegang! Iran Bersumpah Balas Sanksi AS dengan Nuklir & Minyak
- Gudang Raksasa E-commerce Rusia Diserang Drone Ukraina Lagi
Laut Merah merupakan jalur perdagangan global yang sangat vital, mengalirkan sekitar 12 persen lalu lintas maritim dunia setiap tahunnya. Gangguan di kawasan ini memaksa perusahaan pelayaran internasional memutar arah melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
“Situasi ini memaksa Arab Saudi bersiap menghadapi skenario terburuk jika jalur diplomatik gagal meredam aksi militer Houthi,” ujar pengamat hubungan internasional Timur Tengah, Faisal Al-Rasyid.
Pengalihan rute kapal tersebut menambah waktu perjalanan hingga 14 hari dan melipatgandakan biaya logistik global. Biaya asuransi kapal dilaporkan melonjak hingga USD 1 juta (sekitar Rp16,3 miliar) per pelayaran. Dampak ekonomi ini mulai dirasakan oleh negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Pemerintah Arab Saudi sebelumnya telah berupaya meredakan konflik dengan menawarkan proposal gencatan senjata jangka panjang kepada Houthi. Namun, agresi milisi tersebut di jalur pelayaran internasional menunjukkan bahwa mereka memiliki agenda politik yang lebih luas.
Aksi militer Houthi ini diduga kuat mendapat dukungan logistik dan intelijen dari Teheran demi memperluas pengaruh geopolitik mereka.
Amerika Serikat telah meluncurkan Operasi Prosperity Guardian untuk mengamankan navigasi di Laut Merah dari ancaman rudal Yaman. Walau demikian, Arab Saudi memilih untuk bersikap hati-hati agar tidak langsung terseret ke dalam konfrontasi bersenjata terbuka. Riyadh menyadari bahwa serangan balasan langsung ke Yaman dapat menghancurkan infrastruktur minyak mereka sendiri seperti yang terjadi pada tahun 2019.
Serangan udara Houthi pada tahun 2019 silam sempat melumpuhkan separuh dari total produksi minyak mentah Arab Saudi di fasilitas Abqaiq dan Khurais. Peristiwa kelam itu membuktikan kerentanan ekonomi kerajaan terhadap serangan asimetris dari milisi tetangganya.
Kini, dengan keterlibatan kekuatan barat, eskalasi konflik di perairan Yaman berisiko membuka front pertempuran baru yang lebih luas.
Konflik yang memanas ini juga tidak lepas dari ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. Kelompok Houthi menyatakan bahwa aksi pencegatan kapal mereka merupakan bentuk solidaritas terhadap warga Palestina. Klaim moral tersebut digunakan untuk membenarkan tindakan mereka yang kian agresif di mata publik dunia Arab.
Beberapa analis memperingatkan bahwa jika Arab Saudi kembali melancarkan serangan udara ke Yaman, Iran kemungkinan besar akan merespons melalui proksinya yang lain di Lebanon atau Irak. Langkah semacam itu akan menyeret Timur Tengah ke dalam pusaran perang regional yang sulit dihentikan.
Dunia kini menanti keputusan strategis dari Riyadh dalam menghadapi ancaman nyata di depan pintu gerbang perdagangan mereka.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)












