Kurs Dolar AS Tembus Rp 18.000, Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan

Nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat secara resmi menembus level psikologis Rp 18.000 pada awal perdagangan Selasa, 29 September 2026.
Kenaikan ini terpantau sejak sesi pembukaan pasar keuangan pagi hari tadi. Data dari Bloomberg mencatat pergerakan mata uang Paman Sam tersebut langsung menyentuh angka krusial tepat di Rp 18.000.
Sempat terjadi koreksi tipis sesaat setelah pembukaan. Nilai tukar rupiah sempat menguat tipis ke level Rp 17.989 pada pukul 09.25 WIB dengan catatan penguatan sebesar 0,08 persen.
Namun, situasi tersebut tidak bertahan lama bagi mata uang Garuda.
Hanya berselang dua menit kemudian, tepatnya pukul 09.27 WIB, dolar AS kembali melesat dengan penguatan 0,13 persen hingga menembus angka Rp 18.002. Analis pasar memproyeksikan rentang pergerakan kurs dolar AS hari ini akan berada pada kisaran Rp 17.987 hingga Rp 18.007.
Lonjakan ini menjadi kelanjutan dari tren penguatan yang telah terjadi sejak penutupan perdagangan kemarin, Senin (28/9).
Saat itu, posisi dolar AS ditutup pada level Rp 17.978. Jika dihitung sejak awal tahun 2026, akumulasi penguatan dolar AS terhadap rupiah kini telah mencapai 7,85 persen secara year-to-date.
Di sisi lain, platform RTI Business melaporkan data yang sedikit berbeda namun menunjukkan tren serupa. Mereka mencatat dolar AS menguat 0,06 persen menuju posisi Rp 17.979.
Berdasarkan data RTI, performa dolar AS tercatat mengalami kenaikan sebesar 7,81 persen sepanjang tahun 2026 ini.
Kondisi pasar valuta asing memang sedang dalam tekanan di berbagai negara berkembang.
Dolar AS sering kali menjadi aset pilihan utama bagi investor global di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi makro dunia. Peningkatan permintaan terhadap mata uang ini biasanya terjadi ketika investor mencari instrumen yang dianggap lebih aman daripada mata uang lokal negara berkembang.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, fluktuasi nilai tukar ini membawa tantangan tersendiri terutama bagi sektor impor.
Kenaikan harga barang modal maupun bahan baku industri yang berbasis impor akan terdampak langsung oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Pelaku pasar kini terus memantau kebijakan moneter dari otoritas terkait guna meredam volatilitas lebih jauh di pasar uang domestik.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













