Kekhawatiran warga ini memiliki dasar yang kuat jika melihat tren konsumsi energi global. Proyeksi BloombergNEF menunjukkan bahwa pada tahun 2035, konsumsi gas alam oleh pusat data di Amerika Serikat diprediksi akan melampaui total konsumsi gabungan negara Jerman dan Jepang.
Penggunaan energi dalam skala sebesar ini tidak hanya membebani jaringan listrik lokal, tetapi juga berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Peneliti dari Harvard University mencatat bahwa polusi udara dari bahan bakar fosil merupakan faktor utama di balik tingginya angka kematian global, sebuah risiko yang diprediksi akan terus meningkat seiring masifnya adopsi teknologi AI.
Tidak hanya Philadelphia, Gubernur New York Kathy Hochul bahkan telah mengambil langkah drastis dengan menandatangani perintah eksekutif untuk menunda pemberian izin bagi proyek pusat data skala besar. Keputusan ini diambil guna memastikan bahwa pembangunan infrastruktur teknologi tidak mengorbankan pasokan air, kestabilan harga listrik, maupun kesehatan penduduk setempat.
Upaya perlawanan ini semakin menguat dengan digelarnya aksi massa di depan Balai Kota Philadelphia yang dihadiri lebih dari seratus warga. Mereka menuntut transparansi dari pemerintah kota dan peninjauan ulang terhadap dampak keberadaan pusat data bagi masa depan lingkungan mereka.
Bagi warga seperti Pitts, perjuangan ini merupakan bentuk pertahanan diri terhadap pola industri lama yang berulang dalam bentuk baru. Mereka berharap pemerintah daerah lebih mendengarkan aspirasi komunitas alih-alih hanya mengejar investasi digital yang belum tentu memberikan dampak positif secara merata bagi warga sekitar.