Meluruskan Mitos dan Fakta Gempa Bumi yang Sering Salah Dipahami Publik

Di tengah kerentanan wilayah Indonesia terhadap aktivitas tektonik, informasi keliru mengenai gempa bumi sering kali tersebar luas di tengah masyarakat.
Banyaknya klaim yang tidak berdasar, mulai dari cuaca panas sebagai penanda hingga metode penyelamatan diri yang sudah tidak relevan, menuntut kita untuk bersikap kritis.
Memahami perbedaan antara mitos dan fakta menjadi dasar bagi kesiapsiagaan bencana yang lebih baik.
Pertama, terkait klaim cuaca ekstrem, seperti suhu panas atau hujan deras, sebagai pertanda gempa. USGS, lembaga survei geologi Amerika Serikat, menegaskan bahwa tidak ada korelasi ilmiah antara kondisi cuaca di permukaan dengan pergerakan lempeng di bawah tanah.
Gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi di kedalaman beberapa kilometer yang tidak dipengaruhi oleh fluktuasi cuaca harian yang kita rasakan.
Kedua, anggapan bahwa hewan dapat memprediksi gempa dengan akurasi tinggi. Perilaku tidak lazim pada hewan sering dikaitkan dengan kemampuan sensorik mereka yang lebih peka terhadap getaran awal, namun hal ini tidak bisa dijadikan instrumen prediksi ilmiah yang konsisten.
Ketiga, kekhawatiran bahwa gempa kecil merupakan pembuka bagi bencana yang lebih besar. Meskipun para ahli dapat memetakan sejarah sesar, waktu dan besaran gempa di masa depan hingga kini belum dapat ditentukan secara pasti oleh metode apa pun.
Keempat, mengenai mitos prediksi gempa. Hingga saat ini, teknologi global belum mampu memprediksi lokasi, waktu, dan kekuatan gempa secara tepat, sehingga klaim di media sosial mengenai prediksi gempa harus disikapi dengan bijak.
Kelima, prosedur keselamatan di ambang pintu sudah ditinggalkan oleh para ahli. BMKG saat ini lebih menekankan protokol Drop, Cover, and Hold On, yakni merunduk, lindungi kepala dan leher, serta berlindung di bawah meja yang kokoh.
Keenam, berlindung di bawah meja adalah langkah yang justru disarankan untuk menghindari jatuhnya material bangunan seperti plafon atau lampu. Berlari keluar saat guncangan masih berlangsung justru meningkatkan risiko cedera akibat kejatuhan benda dari ketinggian.
Ketujuh, konsep Triangle of Life sering disalahartikan sebagai prosedur universal. Padahal, keselamatan sangat bergantung pada kondisi bangunan dan lingkungan spesifik di sekitar kita.
Terakhir, mitos bahwa wilayah yang tenang dalam waktu lama pasti akan segera diguncang gempa besar. Istilah seismic gap memang ada dalam dunia geologi, namun hal itu berfungsi sebagai indikator potensi jangka panjang, bukan kalender pasti kapan gempa akan terjadi.
Memahami poin-poin tersebut membantu masyarakat menghindari kepanikan yang tidak perlu akibat informasi menyesatkan. Fokus utama seharusnya terletak pada kesiapsiagaan mandiri dan edukasi mitigasi yang berbasis pada panduan lembaga resmi seperti BMKG.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor
















