Mengapa Mengantuk Setelah Makan Siang? Mengenal Food Coma dan Cara Mengatasinya

Mengantuk setelah makan siang atau yang sering disebut dengan food coma sering kali menjadi kendala bagi para pekerja di Indonesia dalam menjaga produktivitas mereka sepanjang hari.
Kondisi medis ini dikenal secara ilmiah dengan istilah somnolen pascaprandial, sebuah fenomena di mana tubuh mengalami penurunan energi secara drastis setelah mengonsumsi makanan dalam porsi besar. Rasa kantuk yang muncul ini sebenarnya merupakan respons biologis yang melibatkan sistem saraf, hormon, dan aliran darah dalam tubuh manusia.
Salah satu penyebab utamanya berkaitan dengan lonjakan kadar gula darah yang memicu pankreas untuk melepaskan hormon insulin dalam jumlah besar. Insulin bertugas membantu penyerapan glukosa ke dalam sel, namun proses ini juga memfasilitasi masuknya asam amino triptofan ke dalam otak. Di dalam otak, triptofan kemudian diubah menjadi serotonin dan melatonin, dua zat kimia yang bertanggung jawab menciptakan rasa tenang serta kantuk.
Pergeseran fokus sistem saraf dari kondisi waspada ke fase istirahat juga memainkan peran utama dalam memicu rasa lemas.
Saat perut terisi penuh, sistem saraf parasimpatis menjadi lebih dominan untuk mendukung proses pencernaan yang efisien. Aktivitas ini sering kali disebut sebagai fase istirahat dan cerna, yang secara alami menurunkan denyut jantung dan mengalihkan energi dari otot serta otak menuju saluran pencernaan.
Di Indonesia, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti nasi putih dalam porsi banyak sering kali memperparah kondisi ini. Karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi menyebabkan gula darah naik dan turun dengan sangat cepat, sehingga tubuh merasa kehabisan tenaga sesaat setelah makan. Penurunan energi ini berdampak langsung pada kemampuan kognitif, membuat seseorang sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan cepat di kantor.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













