
Peneliti dari Baylor College of Medicine menemukan penjelasan ilmiah mengenai kondisi momnesia atau gangguan daya ingat yang sering dialami oleh ibu hamil. Studi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan hormon estrogen selama masa kehamilan menjadi pemicu utama terganggunya sirkuit saraf tertentu di otak.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science Bulletin pada September 2026 ini memberikan dasar biologis bagi fenomena yang selama ini sering dianggap sebagai mitos.
Penurunan daya ingat ini biasanya melibatkan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang sering dianggap remeh oleh orang di sekitar. Profesor klinis UCLA, Aparna Sridhar, menjelaskan bahwa pasien sering melaporkan keluhan seperti salah menaruh kunci rumah atau kehilangan konsentrasi secara tiba-tiba. Gejala lain yang kerap muncul adalah kesulitan bagi ibu untuk mengingat jadwal janji temu yang sudah direncanakan sebelumnya.
Peningkatan estrogen selama kehamilan berdampak langsung pada jalur saraf yang menghubungkan hipotalamus dengan hipokampus. Hipotalamus bertindak sebagai pusat pengaturan tubuh, sementara hipokampus merupakan bagian otak yang memiliki peran besar dalam pembentukan memori manusia.
Kadar estrogen yang terus meninggi memicu aktivitas neuron hipotalamus yang kemudian menekan kinerja hipokampus secara sementara.
Penelitian ini awalnya menggunakan eksperimen pada tikus untuk mengamati gangguan ingatan tanpa adanya perubahan suasana hati yang ekstrem. Para ahli menemukan bahwa protein reseptor estrogen alfa meneruskan sinyal hormon tersebut secara spesifik ke sel hipotalamus. Wilayah tersebut memiliki neuron GABAergik yang mengirimkan sinyal penghambatan secara berlebihan ke bagian otak lainnya sehingga mengganggu fungsi kognitif.
Ketika reseptor estrogen pada neuron hipotalamus dihilangkan melalui modifikasi genetik, gangguan ingatan pada tikus tersebut terbukti bisa pulih kembali. Hasil eksperimen laboratorium ini memberikan petunjuk mengenai mekanisme serupa yang terjadi pada sistem saraf manusia selama masa mengandung.
"Kondisi ini tersebar luas dan sekitar 80 persen perempuan hamil menyadari perubahan tersebut," ujar Zheng Sun, profesor kedokteran Baylor College of Medicine.
Sun menambahkan bahwa angka prevalensi tersebut mayoritas berasal dari laporan pribadi serta pengalaman subjektif para ibu di lapangan. Kondisi medis ini tidak dianggap berbahaya atau melumpuhkan meskipun cukup mengganggu fungsi harian dan kepercayaan diri seseorang. Dampaknya bisa mencakup hambatan pada memori jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk kesulitan mengingat nama rekan atau lokasi yang sudah sangat dikenal.
Keluhan sering lupa ini dipastikan tidak menunjukkan adanya penurunan tingkat kecerdasan secara umum pada diri ibu hamil. Peneliti dari Pennington Biomedical Research Center, Yanlin He, menyebutkan bahwa efek hormonal yang terjadi sifatnya sangat halus dan terukur.
Perubahan kognitif tersebut hanya terjadi secara spesifik pada tugas tertentu dan tidak memengaruhi kemampuan berpikir logis secara menyeluruh.
Untuk memperkuat hipotesis tersebut, tim peneliti melakukan pengujian langsung terhadap 70 perempuan yang terdiri dari kelompok hamil dan tidak hamil. Pengujian mencakup aspek memori kerja serta ingatan jangka pendek yang menunjukkan adanya penurunan performa kognitif pada akhir masa kehamilan. Data penelitian mengungkapkan bahwa penurunan kemampuan mengingat tersebut berkorelasi langsung dengan tingkat estrogen yang mencapai puncaknya.
Hormon estrogen sendiri memiliki peran vital dalam mengatur siklus menstruasi serta menyiapkan fisik ibu untuk menghadapi proses persalinan. Kadar hormon ini akan terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan dan mencapai titik tertinggi ketika memasuki trimester ketiga.
Momnesia biasanya terlihat paling jelas pada akhir masa kehamilan dan dalam beberapa kasus dapat berlanjut hingga periode awal setelah persalinan.
Gejala ini umumnya akan mereda dengan sendirinya setelah ibu melahirkan dan kadar hormon di dalam tubuh kembali ke titik stabil. Walaupun mekanisme pada tikus belum bisa diuji secara invasif pada manusia, data observasi pada puluhan responden perempuan sudah cukup mendukung teori tersebut. Para peneliti menekankan bahwa temuan ini membantu memberikan penjelasan medis bagi fenomena yang selama ini sering kali hanya dianggap sebagai beban psikologis semata.
Kesadaran akan adanya dasar biologis ini diharapkan dapat membantu para ibu untuk lebih memahami perubahan yang terjadi pada tubuh mereka tanpa harus merasa cemas berlebihan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor
