
Nigeria kini menghadapi dilema besar terkait bahan bakar jet, di mana negara ini menjadi pemasok utama Eropa sementara maskapai penerbangan domestiknya berjuang mengisi tangki. Fenomena paradoks ini menggambarkan ketimpangan antara surplus ekspor dan kelangkaan di pasar lokal.
Selama dua bulan terakhir, Nigeria telah muncul sebagai pemasok bahan bakar jet terbesar di Eropa, menyalip Amerika Serikat. Ini terjadi setelah gangguan pasokan akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz yang memaksa Eropa mencari sumber daya baru.
Kilang minyak mega Dangote berkapasitas 650.000 barel per hari di luar Lagos menjadi sumber penting. Fasilitas ini memproduksi sekitar 24 juta liter bahan bakar jet setiap hari, dengan sebagian besar kini dikirim ke Eropa.
Baca Juga:
Namun, di dalam negeri, maskapai penerbangan Nigeria kesulitan memenuhi kebutuhan harian mereka. Kenaikan harga dan tuntutan pasar bebas menjadi penyebab utama masalah ini.
Ikemesit Effiong dari SBM Intelligence menjelaskan, Nigeria mengoperasikan pasar hilir yang sepenuhnya tidak diatur, di mana Dangote menetapkan harga produknya mengacu pada paritas internasional, bukan tarif domestik preferensial. “Bahan bakar mengalir ke mana pun yang membayar paling mahal,” ujarnya, menambahkan bahwa saat ini, itu adalah Eropa, bukan Lagos.
Maskapai domestik harus bersaing dengan pembeli internasional yang menawarkan volume pembelian lebih besar dan sering kali tanpa perantara. Akibatnya, maskapai lokal, meskipun secara fisik dekat dengan kilang, secara ekonomi kurang kompetitif dalam mengakses produknya.
Kondisi ini membuat operator penerbangan lokal dilaporkan menanggung utang lebih dari 60 miliar Naira kepada bank. Banyak yang terpaksa membatasi rute dan menaikkan harga tiket, memicu frustrasi penumpang.
Charles Victor, analis energi, berpendapat masalahnya bukan pada pasokan, melainkan pada harga di perjalanan menuju pesawat. Biaya tambahan seperti penyimpanan, pengiriman pesisir, dan banyaknya perantara yang mengambil untung, membuat harga membengkak.
Solusi yang diusulkan termasuk mengalokasikan sejumlah bahan bakar tertentu untuk maskapai Nigeria setiap bulan. Pembelian langsung dari kilang dapat memotong biaya perantara, menstabilkan harga sekitar 1.200 Naira per liter.
Peningkatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi bandara juga penting untuk mengurangi biaya logistik. Pemerintah diharapkan mendorong hubungan komersial berkelanjutan antara Dangote dan maskapai domestik.
Meskipun Kilang Dangote dibangun untuk menjadikan Nigeria pengekspor produk olahan dan mengurangi ketergantungan impor, krisis global telah menempatkannya sebagai pemasok dunia. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Nigeria dapat menyeimbangkan kebutuhan domestik dengan peluang ekspor.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor
