Pasar Prediksi Kian Dilirik Media Mainstream Global Jelang Pemilu AS

Pasar prediksi kini menjelma menjadi sorotan media arus utama seiring dengan maraknya kutipan peluang taruhan yang muncul dalam pemberitaan politik global. Fenomena ini menjadi topik hangat yang akan dibedah dalam ajang NEXTPredict di New York pada akhir Oktober mendatang.
Acara yang berlangsung di Convene, Hudson Yards tersebut menghadirkan jurnalis aktif dari CNBC dan CNN sebagai pembicara utama untuk menjembatani kesenjangan informasi. Langkah ini diambil oleh pendiri NEXT.io, Pierre Lindh, guna memastikan standar jurnalistik yang kredibel dalam meliput industri yang sedang tumbuh pesat ini.
Menurut Lindh, pasar prediksi menyajikan informasi serius yang diminati masyarakat luas, namun selama ini belum terlayani dengan standar jurnalistik yang mumpuni. Dia menyadari adanya dikotomi antara isu yang menarik perhatian media dengan kebutuhan teknis para delegasi yang hadir di ruang konferensi.
Data dari Token Terminal menunjukkan bahwa Polymarket mencatatkan sekitar 283.300 pengguna aktif bulanan, angka yang sempat menyentuh puncak di atas 750.000 pada musim semi lalu. Sementara itu, platform lain seperti Kalshi mencatat rekor transaksi hingga USD 1,2 miliar (sekitar Rp18,6 triliun) selama turnamen Piala Dunia 2026, sebuah angka yang menegaskan ketergantungan volume pasar pada momentum berita besar.
Minat ritel dalam instrumen ini umumnya berasal dari ekosistem kripto, di mana para pelaku pasar mencari keuntungan jangka pendek dibandingkan investasi berbasis keyakinan jangka panjang. Analis dari Bank of America, Julie Hoover, menyebut bahwa profesionalisasi ruang ini akan terus meningkat seiring dengan akurasi data yang dihasilkan pasar prediksi dalam meramal indikator makroekonomi seperti indeks harga konsumen.
Persaingan dalam memenangkan pasar prediksi pun menjadi semakin ketat bagi pengguna individu. Studi terhadap data perdagangan di Polymarket senilai USD 13,76 miliar (sekitar Rp213 triliun) mengungkap bahwa 3 persen akun menguasai 27 persen keuntungan, sebuah dominasi yang diperkirakan akan semakin terkikis oleh kehadiran lembaga keuangan profesional.
Agenda NEXTPredict juga akan membahas isu krusial mengenai perdagangan orang dalam atau insider trading, yang dipandu oleh ahli hukum dari WilmerHale, Matthew Kulkin. Selain diskusi mendalam, penyelenggara konferensi melakukan langkah taktis dengan membeli asuransi melalui kontrak pembatalan penerbangan di Kalshi senilai USD 3 juta (sekitar Rp46,5 miliar) untuk melindungi operasional acara.
Kehadiran regulator dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat serta para pimpinan perusahaan besar seperti DraftKings dan Robinhood menegaskan bahwa pasar prediksi bukan lagi sekadar spekulasi sampingan. Industri ini tengah berada pada fase transisi menuju integrasi sistem keuangan yang lebih formal dan diatur ketat.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor














