Pengungsi Myanmar di Thailand: Harapan Kerja, Tantangan Implementasi

Bangkok – Setahun lalu, Thailand memberikan hak kerja legal bagi para pengungsi asal Myanmar yang telah lama tinggal di negara tersebut. Langkah ini disambut baik oleh para pengungsi dan kelompok hak asasi manusia, namun evaluasi satu tahun pertama program menunjukkan adanya sejumlah kekurangan yang perlu segera diatasi.
Di tengah hiruk pikuk pembangunan kota Bangkok yang terus meninggi, Ray Boe, 31 tahun, tak ubahnya seperti puluhan ribu pekerja asing lainnya yang tak kenal lelah di berbagai lokasi konstruksi. Namun, ia memiliki cerita berbeda; ia datang ke ibu kota Thailand ini dari salah satu dari sembilan kamp pengungsian yang menampung mereka yang melarikan diri dari konflik berkepanjangan di Myanmar.
Kamp-kamp pengungsian tersebut, yang berbatasan dengan Thailand dan Myanmar, kini menjadi rumah bagi lebih dari 100.000 jiwa. Sebagian dari mereka telah mendiami kamp tersebut sejak era 1980-an, ketika gelombang pengungsi pertama mulai berdatangan. Hingga Oktober 2025 lalu, pemerintah Thailand secara tegas melarang mereka meninggalkan kamp untuk mencari pekerjaan, memaksa mayoritas untuk bertahan hidup seadanya dengan bantuan donatur asing.
Perubahan signifikan terjadi pada Oktober 2025. Pengurangan drastis bantuan asing, terutama dari Amerika Serikat, memaksa kamp-kamp pengungsian untuk memangkas dukungan pangan dan layanan kesehatan yang mereka sediakan. Bersamaan dengan itu, ketegangan teritorial antara Thailand dan Kamboja memicu ratusan ribu pekerja migran dari Kamboja untuk kembali ke negara asal, meninggalkan kekosongan tenaga kerja yang menganga lebar.
Untuk mengatasi defisit bantuan dan kekurangan tenaga kerja ini, pemerintah Thailand melakukan pembalikan kebijakan yang telah berlaku selama puluhan tahun. Mereka mulai menerbitkan izin kerja bagi para pengungsi untuk beraktivitas di luar kamp, guna membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ray Boe adalah salah satu dari 6.800 pengungsi kamp yang dilaporkan telah memasuki angkatan kerja Thailand dalam tahun pertama program. Ia mengungkapkan, “Setelah pemotongan bantuan dari USAID dan organisasi lain, tidak ada lagi dukungan rutin untuk kebutuhan sehari-hari kami, seperti beras dan ransum lainnya. Layanan kesehatan di kamp pun tidak memadai lagi.” Pemotongan ini memaksanya dan orang tuanya untuk berutang kepada tetangga dan mengurangi jatah makan mereka yang memang sudah minim.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor













