Proyek blockchain ini merupakan kelanjutan dari kemitraan yang dimulai sejak 2023. Awalnya, kerjasama tersebut berfokus pada edukasi teknologi blockchain bagi karyawan Petrobras, sebelum akhirnya meluas ke ranah riset energi yang lebih teknis pada awal 2025.
Meskipun teknologi ini menjanjikan, Cardano Foundation belum merilis detail mengenai volume bahan bakar yang sudah terdata maupun jadwal penerapan sistem ini secara lebih luas di pasar global. Belum ada angka pasti mengenai seberapa besar efisiensi biaya yang dihasilkan dari penggunaan sistem buku besar terdistribusi ini.
Penggunaan blockchain di sektor bahan bakar memang bukan hal baru bagi perusahaan energi dunia. Sebelumnya, perusahaan minyak global Shell telah mengimplementasikan platform serupa bernama Avelia sejak 2022 untuk melacak klaim lingkungan SAF guna mencegah penghitungan ganda atas manfaat pengurangan karbon.
Data dari Shell menunjukkan bahwa melalui platform tersebut, lebih dari 84 juta galon bahan bakar berkelanjutan telah masuk ke jaringan distribusi global. Angka tersebut setara dengan pengurangan lebih dari 780.000 ton emisi setara CO2 hingga pertengahan 2026 mendatang.
Di belahan dunia lain, inovasi serupa juga mulai mendapat perhatian dari pelaku industri energi. Perusahaan asal Australia, Viva Energy, baru-baru ini menjalin kesepakatan riset dengan NoviqTech untuk mengeksplorasi sistem Book-and-Claim berbasis blockchain dalam pelaporan emisi yang lebih transparan dan akuntabel.