
Kepolisian Thailand menangkap seorang pria berkewarganegaraan China berusia 37 tahun di Bangkok atas dugaan keterlibatan dalam jaringan kejahatan internasional dan tindak pidana pencucian uang. Penangkapan ini merupakan bagian dari operasi besar untuk membongkar sindikat transnasional yang beroperasi di Asia Tenggara.
Pihak berwenang menuding tersangka berperan dalam memfasilitasi transaksi valuta asing serta mata uang kripto untuk berbagai kelompok kriminal melalui lebih dari 133 akun. Nilai transaksi yang dikelola jaringan tersebut dilaporkan mencapai 500 juta yuan atau sekitar USD 75 juta (setara dengan Rp1,2 triliun).
Selain aktivitas keuangan ilegal, tersangka diduga membantu pengaturan visa bagi anggota kelompok kriminal internasional yang terlibat dalam kasus pencucian uang lainnya. Visa miliknya sendiri diketahui telah kedaluwarsa selama lebih dari tiga tahun.
Tersangka sempat berupaya menghindari kejaran aparat dengan memalsukan dokumen domisili serta mengganti pelat nomor kendaraannya. Namun, polisi akhirnya menemukan pria tersebut bersembunyi di sebuah rumah mewah di Bangkok.
Saat ini, ia harus menjalani proses hukum di Thailand sebelum pihak otoritas setempat berkoordinasi dengan pemerintah China untuk deportasi. Ia akan dipulangkan ke negara asalnya guna menghadapi surat perintah penangkapan yang masih berlaku.
Kasus ini menambah daftar panjang keterlibatan sindikat kejahatan siber di kawasan Asia Tenggara yang memanfaatkan aset kripto. Pada Juni lalu, bursa kripto Coinbase membekukan aset senilai USD 3 juta (sekitar Rp48,6 miliar) yang terkait dengan operasi global penipuan berbasis siber.
Upaya pemberantasan kejahatan digital ini turut melibatkan kolaborasi antara Departemen Kehakiman Amerika Serikat serta raksasa teknologi seperti Meta dan Microsoft. Aksi tersebut bertujuan melumpuhkan infrastruktur server yang digunakan jaringan penipuan untuk menargetkan korban secara global.
Kerja sama lintas negara menjadi kunci dalam memutus rantai pencucian uang internasional. Operasi yang dipimpin oleh kepolisian Thailand menunjukkan bahwa pemantauan terhadap aktivitas kripto mencurigakan kini menjadi prioritas utama badan keamanan siber di kawasan tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor