Rencana Investasi Infantino Jadi Bumerang, Peta Dukungan Pemilihan Presiden FIFA Goyah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)
Pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027 mendatang kini diliputi ketidakpastian bagi sang petahana, Gianni Infantino. Rencana ambisius untuk menjual hak komersial turnamen kepada investor swasta memicu gelombang kritik tajam dari berbagai federasi anggota.
Krisis kepemimpinan ini bermula ketika pembicaraan rahasia Infantino dengan investor asal New York, Josh Kushner, mencuat ke publik. Rencana tersebut bertujuan membentuk anak perusahaan FIFA untuk mengelola turnamen besar seperti Piala Dunia, namun langkah ini justru mendapat penolakan keras.
Hanya dalam waktu empat hari setelah kritik muncul, Infantino terpaksa membatalkan rencana tersebut. Namun, kerusakan reputasi terlanjur terjadi dan memicu perpecahan dukungan di tingkat konfederasi.
UEFA kini memimpin barisan oposisi dengan menuntut mundurnya Infantino dari jabatannya. Konfederasi sepak bola Eropa ini bahkan tengah menyiapkan laporan hukum terkait kebijakan investasi tersebut.
Dinamika dukungan di tingkat global pun terlihat sangat terfragmentasi. Sementara UEFA dan beberapa negara anggota cenderung menarik diri, basis kekuatan Infantino di Afrika dan Amerika Selatan masih menunjukkan loyalitas yang cukup solid.
Data terbaru dari Associated Press mencatat bahwa 87 dari 211 federasi anggota telah menyatakan dukungan resmi kepada Infantino. Di sisi lain, sebanyak 49 federasi telah menyatakan sikap penolakan, sementara sisanya masih memilih untuk bungkam.
Kondisi ini menyisakan lebih dari sepertiga anggota FIFA yang belum menentukan arah politik mereka hingga pemungutan suara di Maroko tiba. Sikap ragu-ragu ini sering kali didorong oleh kekhawatiran akan dampak politik jika kandidat pilihan mereka gagal memenangkan pemilihan.
Sebagai informasi, setiap kandidat presiden FIFA diwajibkan memiliki rekam jejak aktif dalam tata kelola sepak bola minimal dua dari lima tahun terakhir. Selain itu, mereka harus mendapatkan dukungan dari setidaknya lima federasi anggota untuk bisa masuk dalam bursa calon.
Jika pemilihan hanya diikuti oleh dua kandidat, pemenang ditentukan melalui perolehan suara terbanyak dari total suara sah. Namun, persaingan akan menjadi lebih kompleks apabila terdapat tiga atau lebih kandidat yang berkompetisi di kursi panas tersebut.
Sejarah mencatat bahwa dalam 50 tahun terakhir, belum ada petahana yang kalah dalam pemilihan Presiden FIFA. Kekuatan utama seorang petahana terletak pada kapasitasnya dalam mengelola dan mendistribusikan dana pengembangan sepak bola kepada seluruh federasi anggota di seluruh dunia.
Meski posisi Infantino sempat terlihat sangat kokoh pasca-final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, insiden investasi ini telah mengubah peta politik organisasi tersebut secara signifikan. Pertarungan menuju Maret 2027 diprediksi akan menjadi ujian terberat bagi kepemimpinan Infantino sejak tahun 2016.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8869222/original/008133000_1782930974-ko7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261026/original/095995400_1750653717-AP25172080086730.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5097841/original/057022000_1737106153-Leny_Yoro.jpg)





