Rupiah Melemah ke Posisi Rp17.914 per Dolar AS di Awal Perdagangan Rabu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tertekan pada perdagangan Rabu, 14 Oktober, dengan bertengger di level Rp17.914 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan mata uang Garuda mengalami pelemahan sebesar 14 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan angka penutupan pada hari sebelumnya. Pergerakan kurs rupiah ini terjadi di tengah dinamika mata uang di kawasan Asia yang cenderung bervariasi terhadap mata uang Paman Sam.
Data pasar menunjukkan sejumlah mata uang regional seperti won Korea Selatan menguat 0,45 persen, ringgit Malaysia naik 0,10 persen, dan peso Filipina terapresiasi 0,01 persen. Kondisi berbeda dialami yen Jepang yang melemah 0,04 persen dan dolar Singapura yang terkoreksi tipis 0,02 persen, sementara yuan China serta dolar Hong Kong terpantau bergerak datar.
Situasi ini kontras dengan pergerakan mata uang negara maju yang justru kompak menunjukkan penguatan.
Euro Eropa menguat 0,07 persen, poundsterling Inggris naik 0,09 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,06 persen. Selain itu, dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 0,10 persen dan 0,08 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah akan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan pelemahan yang masih terbatas sepanjang hari ini. Tekanan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah di pasar global yang kembali terjadi.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik," ujar Lukman kepada media pada Rabu.
Namun, pelemahan mata uang domestik dinilai masih memiliki ruang untuk tertahan. Faktor utamanya adalah adanya koreksi pada indeks dolar AS serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, atau US Treasury, setelah munculnya pernyataan bernada dovish dari pejabat Federal Reserve.
Pasar keuangan saat ini tengah bersikap hati-hati dalam menentukan posisi investasi. Lukman menambahkan bahwa para pelaku pasar masih cenderung menunggu perkembangan data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada malam hari ini.
Dengan memperhatikan sentimen global tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang antara Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Ketidakpastian data ekonomi dari Amerika Serikat sering kali menjadi pemicu utama volatilitas nilai tukar rupiah di pasar valuta asing domestik.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor













