
Harga Bitcoin menunjukkan pergerakan tipis pada Senin dengan diperdagangkan di level USD 83.327 atau sekitar Rp1,31 miliar setelah mengalami kenaikan 0,6 persen dalam 24 jam terakhir berdasarkan data CoinGecko.
Meski mencatatkan kenaikan harian, aset kripto ini masih membukukan koreksi sebesar 2,9 persen sepanjang pekan terakhir.
Analis pasar senior di Capital.com, Daniela Hathorn, mengungkapkan bahwa Bitcoin sedang berjuang menghadapi kondisi makroekonomi yang semakin menantang. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi, yang kemudian mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik dan memperkuat posisi dolar.
Situasi ini terjadi karena investor kini sedang mengevaluasi kembali arah kebijakan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed. Para pelaku pasar masih memperlakukan Bitcoin sebagai aset berisiko daripada pelindung nilai geopolitik yang stabil.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar saat ini melihat peluang sebesar 19,4 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober mendatang. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan pekan lalu yang berada di posisi 22,1 persen.
Jade Shi dari Bitfire menjelaskan bahwa perubahan ekspektasi suku bunga seharusnya memberikan dukungan bagi Bitcoin. Namun, tingginya imbal hasil obligasi jangka panjang menunjukkan kondisi keuangan global yang belum sepenuhnya melonggar.
Hal tersebut menjelaskan alasan mengapa Bitcoin tertahan dan belum mampu menembus level resistensi yang signifikan. Saat ini, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun berada di angka 5,24 persen, sementara obligasi 30 tahun mencapai 5,60 persen.
Angka ini sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada pekan lalu. Kepala Riset CoinShares, James Butterfill, berpendapat bahwa jika imbal hasil tersebut mencerminkan kekhawatiran keuangan publik, Bitcoin akan mulai dipandang sebagai alternatif mata uang pemerintah.
Aliran dana ke aset digital kini kehilangan momentum setelah sebelumnya mencatatkan arus masuk sebesar USD 11,1 miliar atau sekitar Rp174,8 triliun sejak pertengahan Juli. Dana yang masuk ke ETF Bitcoin spot Amerika Serikat tercatat sebesar USD 21,13 juta atau sekitar Rp332,8 miliar pada Jumat lalu.
Secara teknikal, pergerakan harga Bitcoin saat ini terkunci di kisaran USD 80.300 hingga USD 87.100. Kenaikan di atas level USD 85.600 dengan volume perdagangan yang kuat dapat membuka jalan menuju target harga yang lebih tinggi di angka USD 87.395.
Sebaliknya, penurunan di bawah level USD 82.000 akan meningkatkan risiko koreksi lebih dalam ke arah USD 79.000. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat mendatang yang akan menentukan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor