Langsung ke konten
beritana
Breaking

Satu Tewas, Belasan Terluka Akibat Serangan Rudal Balistik Rusia di Kyiv

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
One killed, 12 injured in Russian ballistic missile attack on Kyiv
A fire breaks out following massive Russian ballistic missile strikes in the Ukrainian capital of Kyiv [Evgen Kotenko/Getty]

Serangan rudal balistik Rusia kembali menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Rabu dini hari. Satu orang dilaporkan tewas dan 12 lainnya terluka akibat gempuran yang menargetkan berbagai lokasi di kota tersebut.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Administrasi Militer Kyiv, yang mengonfirmasi insiden tersebut terjadi pada Rabu pagi waktu setempat.

Gempuran terbaru ini datang setelah setidaknya 27 orang tewas di Ukraina dan Rusia dalam serangan terpisah awal pekan ini. Kondisi ini memperburuk situasi konflik yang telah berlangsung selama lima tahun, yang sayangnya belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Tujuh lokasi di Kyiv menjadi sasaran utama dalam serangan yang dimulai setelah tengah malam. Akibat gempuran ini, sirene peringatan serangan udara untuk seluruh Kyiv terus berbunyi selama lebih dari satu jam.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi sebuah bangunan gudang hancur total di dekat pusat kota. Tim penyelamat masih berupaya keras, dan sejauh ini telah berhasil menarik dua orang dari reruntuhan bangunan tersebut.

“Mungkin masih ada orang di bawah puing-puing,” tulis Klitschko di Telegram, menegaskan bahwa “operasi pencarian dan penyelamatan terus berlanjut.”

Sebelumnya, Klitschko juga melaporkan melalui Telegram. Ia menyebut unit pertahanan udara telah beraksi untuk menangkis serangan rudal tersebut.

Di wilayah sekitar Kyiv, satu orang lainnya tewas dan 21 orang terluka, demikian laporan otoritas setempat melalui Telegram.

Ukraina dalam beberapa bulan terakhir telah mendesak sekutu-sekutu mereka, terutama Amerika Serikat, untuk memasok lebih banyak pencegat rudal Patriot. Persenjataan canggih buatan AS ini sangat krusial untuk melindungi wilayah udaranya yang rentan dari ancaman serangan balistik Rusia yang intensif.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa minimnya pasokan pencegat rudal balistik hanya mendorong Rusia untuk melancarkan serangan semacam itu yang merenggut banyak nyawa.

Zelenskyy sendiri bertemu dengan mantan Presiden AS Donald Trump pada Selasa pekan lalu. Pertemuan itu antara lain bertujuan untuk melobi Washington agar memberikan lisensi produksi Patriot secara domestik di Ukraina.

Pemantau hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya jumlah korban sipil. Angka ini telah mencapai tingkat tertinggi sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update