Langsung ke konten
beritana

Startup AI Fisik Milik Jeff Bezos Kumpulkan Dana USD 12 Miliar untuk Revolusi Industri

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaTech
Jeff Bezos’s Prometheus raises $12B to build an ‘artificial general engineer’ for the physical world
Image Credits:Emma McIntyre/WireImage

Startup kecerdasan buatan fisik Prometheus baru saja mengamankan pendanaan sebesar USD 12 miliar (sekitar Rp189 triliun) dengan valuasi mencapai USD 41 miliar (sekitar Rp646 triliun).

Perusahaan yang dirintis oleh Jeff Bezos bersama mantan petinggi Google Life Sciences, Vik Bajaj, ini kini menjadi salah satu startup AI dengan nilai tertinggi di dunia.

Suntikan modal tersebut berasal dari Jeff Bezos sendiri, serta institusi keuangan besar seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan BlackRock. Pendanaan ini merupakan babak kedua bagi Prometheus setelah sebelumnya mengumpulkan USD 6,2 miliar (sekitar Rp97 triliun) pada akhir tahun lalu.

Prometheus mengembangkan teknologi yang mereka sebut sebagai insinyur umum buatan atau artificial general engineer. Perangkat lunak ini dirancang untuk mengotomatisasi proses desain hingga manufaktur sistem fisik kompleks, mulai dari mesin jet hingga senyawa obat.

Ambisi besar mereka adalah menggantikan porsi kerja teknis manusia dengan kecerdasan mesin. Meskipun memicu kekhawatiran soal lapangan kerja, Bezos justru memandang inovasi ini akan menciptakan peningkatan produktivitas yang signifikan bagi standar hidup masyarakat.

Bezos berpendapat bahwa peningkatan produktivitas akan memicu kelangkaan tenaga kerja, bukan pengangguran massal seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Hal ini memungkinkan rumah tangga yang biasanya membutuhkan dua pencari nafkah kini cukup dengan satu orang saja.

Saat ini, Prometheus mempekerjakan 150 orang yang tersebar di San Francisco, London, dan Zurich. Sebagian besar modal baru akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan komputasi skala besar perusahaan tersebut.

Sektor AI fisik kini menjadi primadona baru di kalangan investor modal ventura. Mereka meyakini bahwa keterikatan dengan dunia fisik menciptakan benteng pertahanan bisnis yang lebih kuat dibandingkan sekadar perangkat lunak murni.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update