"Programnya memang tidak bisa disamaratakan. Kami melihat kebutuhan dan kondisi masing-masing pemain," tegas Eng Hian.
Ia juga menekankan bahwa partisipasi atau penarikan pemain dari China Masters tidak secara otomatis menjamin posisi mereka dalam tim Asian Games. Evaluasi mendalam akan terus dilakukan berdasarkan performa terkini, kondisi fisik, aspek teknis, serta kebutuhan strategis tim. Ini untuk memastikan hanya atlet terbaik dan paling siap yang mewakili Indonesia.
Jadwal yang padat antara dua turnamen besar ini, dengan hanya rentang waktu sekitar dua minggu, memang menghadirkan tantangan signifikan bagi para atlet bulutangkis. Pemulihan fisik dan mental yang memadai menjadi krusial untuk menghindari cedera dan mempertahankan konsistensi performa di level tertinggi.
Langkah PBSI ini mencerminkan fokus jangka panjang untuk meraih prestasi puncak di ajang multi-olahraga seperti Asian Games, yang membawa gengsi nasional. Prioritas ini kerap diambil demi memastikan atlet berada dalam kondisi prima saat berjuang untuk medali emas.
Meskipun China Masters 2026 menawarkan poin BWF yang tinggi sebagai turnamen Super 750, ajang seperti Asian Games memiliki nilai prestise yang berbeda. Medali di Asian Games seringkali menjadi tolok ukur kesuksesan olahraga suatu negara dan kebanggaan tersendiri bagi para atlet. Oleh karena itu, keputusan seperti ini adalah bentuk komitmen federasi terhadap target prestasi di kancah regional.