
Sembilan perusahaan kripto besar resmi meluncurkan Quantum Alliance untuk menjawab tantangan keamanan blockchain dari ancaman komputer kuantum yang kian nyata. Kelompok ini berupaya menetapkan standar global terkait ketahanan jaringan kripto di masa depan.
Organisasi tersebut terdiri dari berbagai sektor, mulai dari protokol lapisan dasar, jaringan privasi, hingga penyedia dompet perangkat keras atau hardware wallet. Beberapa nama besar yang terlibat di antaranya adalah Quantus, Postquant Labs, Midnight Foundation, Keystone, Abelian, serta firma keamanan siber Hacken.
Model kerja aliansi ini mengadopsi struktur Internet Engineering Task Force. Mereka berkomitmen bahwa setiap proposal harus didasarkan pada bukti publik dan implementasi nyata, bukan sekadar ukuran perusahaan atau kepemilikan token.
Christopher Smith, pendiri sekaligus CEO Quantus, menyatakan bahwa kriptografi pasca-kuantum akan menjadi standar keamanan di masa depan. Bagi mereka, teknologi lama yang tidak kompatibel akan segera ditinggalkan dan menjadi sejarah.
Masalah utama yang mendasari pembentukan kelompok ini adalah ketiadaan definisi seragam mengenai istilah quantum-ready. Saat ini, banyak jaringan mengeklaim diri tahan terhadap serangan kuantum tanpa adanya metodologi pengujian yang disepakati bersama oleh industri.
Risiko ini cukup signifikan karena hampir seluruh blockchain menggunakan tanda tangan elliptic-curve untuk melindungi akun pengguna. Algoritma Shor, yang dijalankan pada komputer kuantum dengan kekuatan mumpuni, secara teoretis dapat membongkar kunci pribadi dan mencuri dana dari kunci publik yang terekspos.
Dampaknya tidak terbatas pada Bitcoin saja. Kriptografi serupa juga melindungi kunci pencetakan stablecoin, jembatan lintas rantai, hingga kontrak tata kelola yang jika retak akan memicu domino kegagalan sistemik.
Data dari aliansi menunjukkan sekitar 6,04 juta Bitcoin, atau hampir 30 persen dari total pasokan yang ada saat ini, dalam kondisi rentan terhadap serangan kuantum. Angka tersebut setara dengan nilai ratusan miliar dolar Amerika Serikat.
Prediksi ancaman tersebut kini semakin mendesak. Beberapa model yang dikembangkan oleh anggota aliansi menyebut Maret 2028 sebagai jendela waktu awal bagi komputer kuantum untuk mulai mampu memecahkan enkripsi yang ada saat ini.
Google Quantum AI bahkan telah memangkas perkiraan jumlah qubit yang dibutuhkan untuk meretas kriptografi Bitcoin menjadi kurang dari 500.000 unit. Meski belum ada mesin yang mampu melakukannya hari ini, perkembangan teknis di laboratorium terus menunjukkan kemajuan pesat.
Industri kripto pun mulai bereaksi cepat dengan melakukan berbagai langkah mitigasi. Coinbase, bursa kripto terbesar di Amerika Serikat, telah mendesak pengembang Bitcoin untuk segera memulai migrasi ke sistem kriptografi yang lebih aman karena proses ini diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.
Selain itu, terdapat konsorsium yang didukung oleh investor besar seperti BlackRock dan Coinbase yang telah mengucurkan dana sebesar USD 15 juta atau sekitar Rp238 miliar untuk riset keamanan kuantum. Langkah ini menegaskan bahwa ketahanan teknologi menjadi fokus utama bagi kelangsungan ekosistem aset digital jangka panjang.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor