Bitcoin Bertahan di Level USD 82.000 Saat Pasar Saham Global Mulai Pulih

Pasar aset kripto dan bursa saham global mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal pekan ketiga Oktober. Bitcoin (BTC) kini diperdagangkan di kisaran USD 82.000 (sekitar Rp1,27 miliar) setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada pekan sebelumnya.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan kinerja keuangan perusahaan besar di Amerika Serikat. Sekitar 15 persen perusahaan yang terdaftar dalam indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal ketiga, termasuk perusahaan teknologi raksasa seperti Tesla dan Meta.
Kinerja saham sektor teknologi menjadi sorotan utama setelah sempat anjlok pekan lalu. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai besarnya pengeluaran perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau AI, yang dianggap membebani neraca keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI Composite bahkan sempat mencatatkan penurunan mingguan sebesar 17 persen sebelum akhirnya kembali menguat. Kepanikan pasar yang sempat memicu rumor peristiwa Black Monday di media sosial perlahan mereda seiring dengan rebound teknis pada indeks saham utama.
Analis pasar dari The Kobeissi Letter mencatat adanya ketidaksesuaian antara sentimen publik dan kinerja pasar yang sebenarnya. Mereka menilai bahwa permintaan investor terhadap kepemilikan aset masih sangat kuat, meskipun inflasi tinggi dan krisis energi global masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan.
Sementara itu, para pelaku pasar sedang memantau kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve yang akan diputuskan pada 28 Oktober mendatang. Data dari CME Group FedWatch Tool menunjukkan bahwa mayoritas investor memprediksi suku bunga akan dipertahankan pada kisaran 3,75 hingga 4,00 persen.
Ketidakpastian ekonomi ini diperburuk oleh kenaikan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat bulan September yang mencatat lonjakan bulanan tertinggi sejak Maret 2022. Peningkatan harga bahan bakar menjadi kontributor utama yang menekan daya beli dan memicu inflasi di berbagai sektor.
Melihat pergerakan Bitcoin, analis memperingatkan adanya potensi pengujian ulang pada level support USD 80.000 (sekitar Rp1,24 miliar). Penutupan mingguan di bawah level kunci USD 82.500 dianggap sebagai sinyal teknis yang kurang menguntungkan bagi para pemegang aset kripto dalam jangka pendek.
Platform analitik onchain CryptoQuant turut menyoroti penurunan permintaan dari investor Amerika Serikat. Indeks Coinbase Premium yang mengukur selisih harga Bitcoin di bursa Coinbase dan Binance sempat jatuh ke level terendah sejak Juni, menandakan kurangnya likuiditas untuk menyerap tekanan jual di pasar.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










