Pendiri HEX Richard Heart Ditangkap di Istanbul, Pasar Kripto Bergolak

Pendiri HEX, Richard Schueler atau yang lebih dikenal sebagai Richard Heart, dilaporkan telah ditahan oleh otoritas keamanan di Istanbul, Turki, dalam sebuah penggerebekan pada 14 Oktober.
Insiden tersebut berdampak langsung pada nilai pasar HEX yang anjlok drastis dari USD 561 juta (sekitar Rp8,8 triliun) menjadi USD 315 juta (sekitar Rp4,9 triliun) hanya dalam kurun waktu satu pekan.
Menteri Kehakiman Turki, Akın Gürlek, mengonfirmasi bahwa kepolisian menyita uang tunai senilai USD 7,15 juta (sekitar Rp112 miliar), senjata api, dan amunisi dari 15 lokasi yang digeledah di distrik Beşiktaş. Selain itu, petugas menyita sembilan kendaraan mewah yang terdaftar atas nama istri Schueler, serta puluhan jam tangan, tas, dan kartu grafis.
Penangkapan ini merupakan tindak lanjut dari Red Notice yang dikeluarkan oleh Interpol dua tahun lalu atas tuduhan penipuan pajak dan kekerasan di Finlandia. Media lokal Turki menjuluki Schueler sebagai Whale James dan sempat mengaitkannya dengan dugaan penawaran sekuritas tidak terdaftar senilai USD 1 miliar di Amerika Serikat.
Foto yang beredar di media sosial memperlihatkan Schueler dalam kondisi terkejut saat penggerebekan berlangsung. Meski keaslian foto tersebut belum dapat diverifikasi sepenuhnya, gambar itu telah memicu beragam reaksi keras di komunitas kripto global.
Sementara itu, sektor teknologi kripto lainnya juga sedang mengalami dinamika besar terkait ancaman komputasi kuantum. Starknet kini tengah melakukan pemungutan suara untuk beralih dari Ethereum Layer 2 menjadi Layer 1 yang tahan terhadap serangan kuantum.
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau AI akan mampu meretas kriptografi kurva eliptik lebih cepat dari perkiraan semula. Sebagai konsekuensi dari ketidakpastian pasar, harga token Starknet tercatat merosot hampir 50 persen selama sepekan terakhir.
Di sisi lain, perusahaan infrastruktur Ledger baru saja meluncurkan perangkat dompet fisik baru bernama Atom seharga USD 849 (sekitar Rp13,3 juta). Produk ini diklaim memiliki perlindungan lebih kuat untuk mencegah peretasan melalui implan berbahaya pada perangkat yang sempat dilaporkan terjadi di Asia.
Di tengah volatilitas tersebut, analis dari Bitwise tetap optimis dengan prospek jangka panjang aset kripto. Mereka memproyeksikan periode saat ini sebagai awal dari musim semi kripto seiring dengan peningkatan aktivitas transaksi stablecoin dan aliran modal yang konsisten ke produk ETF Bitcoin di Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor











