BNB Chain Catat Sejarah, Aset Saham Ter-tokenisasi Tembus Rp17 Triliun

BNB Chain mencatatkan rekor baru sebagai blockchain pertama yang memfasilitasi aset saham dan reksa dana terindeks (ETF) dalam bentuk token dengan nilai mencapai 1,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp17,3 triliun.
Pencapaian tersebut menempatkan jaringan ini sebagai pemimpin pasar dengan penguasaan sekitar 30 persen dari total nilai pasar aset saham ter-tokenisasi global yang kini menyentuh 3,7 miliar dollar AS (sekitar Rp58,3 triliun). Tren digitalisasi aset keuangan tradisional ke dalam ekosistem blockchain terus menunjukkan akselerasi yang signifikan sepanjang tahun ini.
Pertumbuhan sektor ini tercatat meningkat sekitar 17 persen pada September 2024 dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 2,87 miliar dollar AS (sekitar Rp45,2 triliun). Data dari Token Terminal menunjukkan bahwa pergeseran minat investor menuju aset dunia nyata yang didigitalkan atau Real World Assets (RWA) menjadi faktor pendorong utama. Fenomena ini memungkinkan aset konvensional seperti saham perusahaan teknologi atau obligasi negara diperdagangkan dalam bentuk token digital selama 24 jam penuh tanpa bergantung pada jam operasional bursa saham tradisional.
Posisi BNB Chain saat ini mengungguli para kompetitor utamanya dalam kategori aset keuangan yang ditransformasi menjadi format digital.
Ethereum menempati posisi kedua dengan nilai kapitalisasi sebesar 828 juta dollar AS (sekitar Rp13,04 triliun) atau setara 22 persen pangsa pasar. Sementara itu, Solana berada di peringkat ketiga dengan nilai 738 juta dollar AS (sekitar Rp11,62 triliun) yang mewakili 20 persen dari total pasar global.
Laporan dari Binance Research yang dirilis pada Selasa kemarin mengungkapkan bahwa BNB Chain juga memimpin dari sisi jumlah basis pengguna. Terdapat sekitar 1,8 juta alamat dompet digital di jaringan tersebut yang memegang aset saham ter-tokenisasi, mencakup 45 persen dari total pemegang aset serupa secara global. Jaringan ini menjadi rumah bagi berbagai produk finansial inovatif, termasuk instrumen Binance bStocks dan sekuritas ter-tokenisasi dari Ondo Global Markets.
Pertumbuhan sektor saham ter-tokenisasi secara keseluruhan telah meningkat lebih dari lima kali lipat sejak Januari 2024 yang saat itu nilainya hanya sebesar 719 juta dollar AS (sekitar Rp11,32 triliun). Lonjakan ini sangat menarik karena struktur penguasaan pasar mengalami perubahan drastis dalam waktu kurang dari satu tahun.
Pada awal tahun, Ethereum masih mendominasi pasar dengan pangsa sebesar 48 persen, disusul Solana sebesar 31 persen, sedangkan BNB Chain hanya memiliki porsi kecil sebesar 13 persen.
Bagi pembaca di Indonesia, konsep tokenisasi saham ini mirip dengan kepemilikan saham secara tidak langsung melalui platform digital namun dengan fleksibilitas yang lebih tinggi. Investor dapat membeli sebagian kecil dari satu lembar saham, sebuah sistem yang sering disebut sebagai kepemilikan fraksional, sehingga aset kelas dunia menjadi lebih terjangkau bagi pemodal ritel dengan modal terbatas.
Meskipun pertumbuhan ini sangat masif, operasional aset-aset tersebut tetap terikat pada regulasi keuangan yang berlaku di yurisdiksi masing-masing penyedia layanan. Keamanan data dan kepastian hukum menjadi faktor yang terus diperhatikan oleh para pengembang teknologi blockchain untuk menarik lebih banyak institusi keuangan besar masuk ke ekosistem ini. Integrasi antara sistem perbankan konvensional dengan infrastruktur desentralisasi diprediksi akan menjadi standar baru dalam industri keuangan di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor












