
Bryan Johnson, tokoh utama di balik gerakan Don't Die, baru saja mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan di media sosial X. Ia mengakui bahwa terapi anti-penuaan yang paling efektif ternyata bukanlah suplemen atau prosedur medis mahal, melainkan penggunaan filter foto, teknik penyuntingan gambar, dan pengaturan cahaya.
Pernyataan ini terasa ganjil bagi seorang pria yang secara rutin menghabiskan USD 2 juta atau sekitar Rp31 miliar setiap tahun demi merekayasa tubuhnya agar kembali berfungsi layaknya remaja berusia 18 tahun. Selama ini, Johnson dikenal luas karena melakukan berbagai metode ekstrem, mulai dari perubahan gaya hidup total hingga terapi kejut gelombang pada organ vitalnya.
Namun, sebuah perubahan drastis mulai terlihat pada musim panas ini. Johnson mengumumkan diagnosis gastritis autoimun yang ia derita sejak Mei, di mana sistem kekebalan tubuhnya menyerang lapisan lambung miliknya sendiri.
Kondisi medis juga menimpa orang terdekatnya, Kate Tolo, yang merupakan rekan pendiri program Blueprint miliknya. Kate didiagnosis mengidap endometriosis serta beberapa kondisi kesehatan kronis lainnya setelah menjalani serangkaian tes selama enam pekan.
Di tengah tantangan kesehatan tersebut, Johnson sempat memicu kontroversi saat mengeklaim telah mengkloning dirinya sendiri dalam bentuk sel bayi baru lahir. Para ahli kemudian mengoreksi pernyataan tersebut, menegaskan bahwa apa yang dibuat Johnson hanyalah sel punca yang diprogram ulang, bukan proses kloning manusia seperti yang sempat ia gembar-gemborkan.
Setelah peristiwa tersebut, Johnson mulai mengalihkan fokus bisnisnya. Ia mengungkapkan bahwa sempat mempertimbangkan untuk menutup perusahaan umur panjang miliknya tahun lalu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengarahkan visinya pada upaya penyembuhan semua jenis penyakit.
Langkah ini terinspirasi dari beberapa tokoh teknologi, termasuk Sid Sijbrandij dari GitLab yang berhasil pulih dari kanker. Johnson kini memfokuskan programnya, Immortals, untuk menciptakan perangkat yang memungkinkan individu mendeteksi serta memperbaiki masalah kesehatan mereka secara mandiri.
Meski menu lama seperti pengaturan nutrisi, penggunaan hormon, dan pemantauan biomarker tetap dipertahankan, ia kini menambahkan elemen baru. Program tersebut mulai menyentuh ranah sel punca dan pengembangan terapi yang dipersonalisasi untuk setiap pengguna.
Secara biologis, Johnson tetap mengeklaim bahwa data kesehatannya dalam banyak aspek memang setara dengan remaja 18 tahun. Indikator seperti kualitas tidur, kesuburan, detak jantung istirahat, hingga kesehatan vaskular menjadi acuan utama atas klaim kesuksesan protokolnya.
Akan tetapi, ia secara jujur mengakui bahwa penampilan fisiknya masih mencerminkan usia aslinya, yakni 49 tahun. Pengakuan ini sekaligus menjadi alasan mengapa penggunaan botox atau riasan wajah terkadang memberikan hasil visual yang jauh lebih instan dibanding riset medis bernilai jutaan dolar.
Kini, perhatian Johnson juga meluas ke ranah kesehatan perempuan melalui keterlibatan Kate Tolo. Tolo menyatakan ambisinya menjadi perempuan dengan data kesehatan paling lengkap di dunia melalui pengumpulan 14 juta titik data dari siklus menstruasinya.
Terlepas dari berbagai kendala yang ada, Johnson menegaskan bahwa targetnya untuk meraih imortalitas pada 2039 belum berubah. Ia tetap berkomitmen mencapai tujuan tersebut meski waktu yang tersisa tinggal 13 tahun lagi, yang artinya ia akan memasuki usia 60-an saat tenggat waktu tersebut tercapai.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor