Harga Bitcoin Berusaha Menguat Saat Imbal Hasil Obligasi AS Mulai Turun

Harga Bitcoin mencoba mempertahankan tren kenaikan lokal setelah pasar obligasi Amerika Serikat mengalami gejolak signifikan pada Kamis waktu setempat.
Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat menembus level USD 84.000 atau sekitar Rp1,3 miliar ketika bursa Wall Street mulai dibuka. Pergerakan ini terjadi tepat setelah imbal hasil obligasi AS atau US bond yields mencatatkan rekor tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Berdasarkan data dari TradingView, pasangan BTC/USD secara konsisten mencetak pola level terendah yang lebih tinggi dalam grafik per jam. Kenaikan tipis sebesar 0,6 persen tercatat dalam perdagangan harian di tengah ketidakpastian pasar global. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 5,342 persen, sebuah level yang terakhir kali terlihat pada April 2002, sebelum akhirnya terkoreksi ke posisi 5,251 persen.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap beban utang publik yang terus membengkak di berbagai negara. Mahmood Pradhan, mantan wakil direktur departemen Eropa di Dana Moneter Internasional atau IMF, menyatakan bahwa pelaku pasar global kini dalam kondisi gugup karena biaya bunga utang pemerintah yang terus melonjak.
Situasi geopolitik juga menambah tekanan pada pasar keuangan global saat ini. Konflik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak dunia meningkat, yang kemudian tercermin dalam data inflasi di banyak negara besar.
Sementara itu, indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau PCE di Amerika Serikat tercatat berada di level 3,4 persen secara tahunan. Indeks ini merupakan indikator inflasi yang menjadi rujukan utama bagi bank sentral AS, Federal Reserve, dalam menentukan kebijakan moneter mereka. Namun, pasar bereaksi minim terhadap data tersebut karena adanya pergeseran dalam metodologi perhitungan indeks PCE itu sendiri.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor












