Chainalysis Lolos dari Gugatan Celsius, Namun Tuduhan Audit Palsu Berlanjut

Seorang hakim federal Amerika Serikat memutuskan untuk membatalkan sebagian besar tuntutan hukum yang dilayangkan terhadap perusahaan analisis blockchain, Chainalysis, terkait kasus kebangkrutan Celsius Network.
Meski begitu, satu gugatan krusial terkait tuduhan keterlibatan dalam pelanggaran kewajiban fidusia tetap berlanjut ke persidangan.
Hakim Distrik AS, Margaret Garnett, menolak permohonan Chainalysis untuk menghentikan kasus ini sepenuhnya pada Selasa lalu. Garnett menilai terdapat bukti awal bahwa pihak Chainalysis mengetahui adanya pernyataan keliru dalam siaran pers Celsius tahun 2020 dan diduga membantu penyebaran informasi tersebut.
Perkara ini bermula dari upaya Blockchain Recovery Investment Consortium (BRIC) sebagai administrator litigasi untuk memulihkan aset bagi para kreditur Celsius. Celsius sendiri adalah platform pinjaman kripto yang mengalami kebangkrutan pada Juli 2022 setelah membekukan penarikan dana nasabah senilai USD 4,7 miliar atau sekitar Rp73 triliun.
Gugatan tersebut menyoroti kerja sama antara Celsius dan Chainalysis pada tahun 2020. Saat itu, Celsius menggunakan perangkat lunak bernama Reactor milik Chainalysis untuk menghitung aset kelolaan perusahaan.
Dalam dokumen pengadilan, terungkap bahwa seorang eksekutif Celsius awalnya menghitung aset sebesar USD 1,18 miliar atau sekitar Rp18,3 triliun. Namun, setelah melakukan perubahan metodologi perhitungan, angka tersebut melonjak drastis menjadi USD 3,3 miliar atau setara Rp51,2 triliun.
Celsius kemudian mengumumkan angka ini melalui siaran pers pada 9 Desember 2020 dengan menyebutnya sebagai hasil audit independen. Pihak penggugat menduga Chainalysis terlibat langsung dalam penyuntingan dan persetujuan naskah siaran pers tersebut.
Penggugat menuding Chainalysis menyadari bahwa penggunaan istilah audit dan verifikasi independen dalam rilis tersebut adalah informasi menyesatkan. Hal ini menjadi inti dari tuduhan bantuan dan persekongkolan yang kini diperbolehkan oleh hakim untuk diproses lebih lanjut.
Di sisi lain, Hakim Garnett telah membatalkan 12 tuntutan lainnya dengan prasangka, yang berarti pihak penggugat tidak lagi diizinkan untuk mengajukan kembali tuntutan tersebut dalam kasus yang sama. Selain itu, tiga tuntutan perlindungan konsumen dibatalkan tanpa prasangka, memberi kesempatan kepada penggugat untuk memperbaiki dokumen hingga 20 Oktober mendatang.
Pihak Chainalysis memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait perkembangan hukum ini. Sementara itu, tim administrator Celsius belum memberikan tanggapan hingga laporan ini diturunkan.
Kasus ini menjadi pelajaran bagi industri kripto mengenai pentingnya transparansi dalam pelaporan aset. Penggunaan perangkat lunak analisis blockchain seringkali dianggap sebagai standar emas, namun interpretasi data yang tidak tepat dapat berujung pada konsekuensi hukum serius bagi penyedia teknologi maupun kliennya.
Hingga saat ini, tuduhan tersebut belum terbukti di pengadilan dan masih berstatus sebagai klaim yang perlu diuji kebenarannya. Proses hukum panjang ini menjadi bagian dari upaya pemulihan dana nasabah yang kehilangan akses terhadap aset mereka pasca keruntuhan pasar kripto global beberapa tahun lalu.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor












