
Laba bersih Tesla merosot tajam sebesar 43 persen pada kuartal terakhir menjadi USD 787 juta, atau sekitar Rp12,3 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 1,37 miliar.
Penurunan kinerja keuangan ini terjadi karena perusahaan milik Elon Musk tersebut mengalihkan fokus investasi besar-besaran ke pengembangan robot humanoid serta taksi tanpa pengemudi. Langkah ambisius ini diambil saat volume pengiriman mobil listrik Tesla tercatat turun sekitar 2 persen di pasar global.
Pendapatan Tesla cenderung stagnan di angka USD 28,05 miliar, atau sekitar Rp440 triliun. Namun, laba operasional perusahaan justru tergerus hingga 56 persen menjadi USD 718 juta akibat tingginya beban biaya operasional dan riset.
Peningkatan anggaran riset perusahaan melonjak 69 persen hingga menyentuh angka USD 2,76 miliar. Pengeluaran modal untuk pembangunan pabrik dan peralatan canggih bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi USD 4,73 miliar.
Strategi pendanaan ini ditujukan untuk dua inovasi utama, yakni Optimus dan Cybercab. Optimus merupakan robot humanoid yang dirancang untuk menggantikan peran manusia dalam pekerjaan berbahaya atau repetitif di lingkungan industri.
Cybercab sendiri adalah taksi otonom dua kursi tanpa setir maupun pedal yang dipesan melalui aplikasi ponsel pintar. Tesla kini mulai memproduksi unit robot Optimus secara massal di pabrik mereka yang berlokasi di Fremont, California.
Elon Musk menargetkan produksi sebanyak 20.000 unit Optimus per minggu. Meski demikian, ia mengakui target tersebut memerlukan waktu sedikitnya satu tahun karena desain robot masih terus mengalami perubahan teknis.
Pengiriman unit robot kepada pihak eksternal diperkirakan baru akan terealisasi pada akhir 2027 mendatang. Musk menyebut bagian tangan robot menjadi tantangan perangkat keras paling sulit yang harus diatasi perusahaan.
Tesla sebelumnya sempat meleset dari target produksi robot yang direncanakan untuk tahun 2025. Di sisi lain, persaingan dalam industri robotika semakin ketat dengan kehadiran kompetitor seperti Figure AI yang didukung oleh Microsoft, OpenAI, dan Nvidia.
Terkait armada taksi otonom, pihak Tesla menyatakan tengah berupaya menghadirkan Cybercab bagi konsumen pada akhir tahun 2026. Semua unit taksi otonom yang diproduksi sejauh ini akan masuk ke dalam armada milik Tesla sendiri dengan skema layanan transportasi berbasis langganan.
Perusahaan belum memberikan rincian mengenai harga resmi unit tersebut, meskipun target harga yang sempat dilontarkan berada di bawah angka USD 30.000 atau sekitar Rp470 juta. Musk optimistis bisnis taksi otonom ini akan memberikan dampak signifikan bagi laporan keuangan Tesla mulai tahun 2027.
Selain inovasi otomotif, terdapat isu mengenai potensi penggabungan antara Tesla dan SpaceX. Dewan direksi dari kedua perusahaan telah membentuk komite khusus untuk mempelajari kemungkinan tersebut, meskipun belum ada kesepakatan formal yang dicapai hingga saat ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor