Dana ETF Bitcoin Spot AS Terkuras Rp10,2 Triliun dalam Sehari

Pasar kripto global kembali bergejolak setelah produk dana diperdagangkan di bursa atau ETF Bitcoin spot AS mencatatkan penarikan dana bersih sebesar USD 635 juta (sekitar Rp10,28 triliun) pada perdagangan Kamis. Lonjakan arus keluar modal ini menghapus seluruh arus masuk positif pekan ini sekaligus menekan kinerja ETF Bitcoin spot AS sepanjang bulan Oktober ke zona merah.
Berdasarkan data lembaga riset SoSoValue, total kerugian bersih produk investasi ini pada bulan Oktober kini mencapai USD 175 juta (sekitar Rp2,83 triliun).
Penarikan dana dalam jumlah besar ini memutus tren arus masuk modal positif yang sempat berlangsung selama tiga hari beruntun dengan total USD 1,08 miliar (sekitar Rp17,49 triliun). Angka penarikan harian ini menjadi yang terbesar sejak 25 Juni lalu ketika dana investasi berbasis aset kripto tersebut kehilangan modal sebesar USD 696 juta (sekitar Rp11,27 triliun). Meskipun mengalami guncangan tajam pada perdagangan harian, akumulasi mingguan ETF ini sebenarnya masih membukukan arus masuk bersih USD 443 juta (sekitar Rp7,17 triliun).
Pergerakan harga Bitcoin di pasar spot terpantau ikut tertekan seiring dengan derasnya penarikan modal oleh investor institusi. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini bergerak pada rentang USD 80.996 (sekitar Rp1,31 miliar) hingga USD 82.551 (sekitar Rp1,33 miliar) sepanjang perdagangan hari Kamis.
Data CoinGecko menunjukkan harga Bitcoin berada di kisaran USD 81.783 (sekitar Rp1,32 miliar) atau melemah sekitar 1 persen dalam 24 jam terakhir.
Tekanan jual tidak hanya melanda instrumen berbasis Bitcoin, tetapi juga menjangkiti pasar produk ETF aset kripto alternatif atau altcoin. ETF Ether mencatatkan arus keluar bersih tertinggi di kelompok altcoin dengan nilai mencapai USD 111 juta (sekitar Rp1,79 triliun). Tren penurunan tersebut diikuti oleh ETF Solana yang kehilangan dana USD 9 juta (sekitar Rp145,8 miliar) serta ETF Hyperliquid yang mencatat penarikan modal USD 8 juta (sekitar Rp129,6 miliar).
Hanya ETF XRP yang mampu melawan arus pelemahan pasar dengan mengantongi arus masuk modal segar sebesar USD 3,6 juta (sekitar Rp58,3 miliar).
Sentimen negatif pasar keuangan global dipicu oleh dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah setelah pernyataan terbaru mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Iran. Ketegangan geopolitik tersebut mendorong para investor beralih ke instrumen berisiko lebih rendah sehingga pasar saham Wall Street dan pasar aset kripto mengalami koreksi bersamaan.
Posisi harga Bitcoin saat ini berada sangat dekat dengan batas harga rata-rata kepemilikan modal para penerbit ETF yang diperkirakan berada pada level USD 81.500 (sekitar Rp1,32 miliar). Area ini menjadi titik psikologis penting bagi investor institusi untuk menentukan arah investasi jangka pendek. Apabila harga bertahan di atas ambang batas tersebut, potensi pemulihan arus modal diperkirakan masih terbuka lebar.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, gejolak modal institusional di Amerika Serikat ini menjadi indikator penting pergerakan likuiditas global. Investor domestik diimbau untuk memperhatikan volatilitas harga dan tidak bersikap impulsif dalam mengambil keputusan investasi di pasar kripto.
Perubahan pergerakan dana institusi modal asing ini memperlihatkan betapa rentannya aset digital terhadap dinamika makroekonomi dan arah kebijakan moneter global.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










