Meta Terbitkan Saham Baru Tanpa Hak Suara demi Biayai Ekspansi AI

Meta Platforms Inc. resmi menyetujui penerbitan kelas saham baru tanpa hak suara untuk memperkuat pendanaan proyek kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) milik perusahaan. Kebijakan ini memungkinkan raksasa teknologi tersebut mendapatkan tambahan modal besar tanpa menggerus kendali mutlak sang pendiri, Mark Zuckerberg.
Setiap pemegang saham Kelas A dan Kelas B akan menerima satu lembar saham Kelas C sebagai dividen satu banding satu. Struktur ini bekerja layaknya pemecahan saham dua banding satu, namun dengan pembatasan hak suara yang signifikan bagi pemilik saham baru tersebut.
Meta menjelaskan bahwa saham Kelas C akan mulai berlaku efektif pada 19 Januari 2027. Saham ini dirancang agar dapat digunakan sebagai alat pembayaran akuisisi, kompensasi karyawan, atau dijual untuk mendapatkan uang tunai di pasar terbuka.
Data dari pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) menunjukkan bahwa saat ini Mark Zuckerberg memegang sekitar 60,6 persen kekuatan suara di Meta. Dominasi ini berasal dari kepemilikan saham Kelas B yang memiliki bobot 10 suara per lembar, jauh lebih tinggi dibandingkan saham Kelas A yang hanya bernilai satu suara.
Langkah ini diambil menyusul proyeksi kebutuhan pendanaan jangka panjang yang mencapai ratusan miliar dolar AS. Berdasarkan dokumen internal, penasihat keuangan dari Moelis memperkirakan Meta bisa menghimpun ekuitas hingga USD 700 miliar atau sekitar Rp11.000 triliun selama beberapa tahun ke depan sebelum suara Zuckerberg turun di bawah 50 persen.
Chief Financial Officer Meta, Susan Li, menekankan bahwa angka tersebut merupakan batas teoritis maksimal. Pihak perusahaan menegaskan belum ada rencana penjualan saham dalam waktu dekat karena pengajuan ini sekadar langkah antisipatif untuk menjaga fleksibilitas keuangan.
Terdapat ketentuan ketat dalam Perjanjian Penyelarasan Pendiri yang mengatur batasan penjualan saham oleh Zuckerberg. Sebanyak 80 persen dari saham Kelas C yang diterimanya tidak dapat dijual bebas kecuali ia melepas saham dengan hak suara yang setara, yang otomatis akan mengurangi kontrolnya terhadap perusahaan.
Perjanjian tersebut juga mewajibkan Zuckerberg untuk tetap menetap di California atau lokasi kantor pusat Meta selama delapan tahun ke depan. Keputusan ini turut dipengaruhi oleh potensi kewajiban pajak kekayaan di California yang nilainya bisa mencapai miliaran dolar AS.
Penerbitan saham ini akan kembali dilakukan secara rutin setiap kali harga rata-rata saham Kelas C naik dua kali lipat dari harga dasar acuan. Skema ini memastikan Meta memiliki cadangan modal yang terus tumbuh seiring dengan kenaikan performa perusahaan di pasar modal.
Meskipun saham Kelas C memiliki karakteristik serupa dengan kelas lainnya, investor perlu memperhatikan adanya potensi diskon harga saat diperdagangkan. Selain itu, saham tanpa hak suara ini tidak masuk dalam kategori saham yang memenuhi syarat untuk penangguhan pajak tertentu dalam transaksi bisnis tertentu di Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor








