NFL Dukung Negara Bagian AS Lawan Platform Prediksi Kalshi di Mahkamah Agung

National Football League (NFL) menyatakan dukungan terhadap otoritas New Jersey dalam upaya hukum mereka di Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait operasional platform pasar prediksi, Kalshi. Dukungan ini disampaikan melalui dokumen hukum yang dikenal sebagai amicus brief atau dokumen yang diajukan pihak ketiga untuk memberi masukan kepada pengadilan.
Liga sepak bola profesional Amerika Serikat tersebut menilai bahwa keberadaan pasar prediksi seperti Kalshi dapat mengancam integritas pertandingan. Mereka berargumen bahwa banyak kontrak taruhan pada platform tersebut sangat rentan terhadap manipulasi.
NFL mengutip data yang menunjukkan dominasi taruhan olahraga dalam ekosistem ini. Pada hari Minggu pertama musim kompetisi, volume perdagangan terkait NFL mencapai USD 1,8 miliar (sekitar Rp28,3 triliun) dari total USD 3,3 miliar (sekitar Rp51,9 triliun) volume di seluruh pasar prediksi.
Menurut NFL, risiko manipulasi menjadi sangat nyata karena tindakan satu orang saja dapat mengubah hasil taruhan. Seorang pemain bisa sengaja mengubah performanya, pelatih mengganti susunan pemain, atau wasit mengambil keputusan yang janggal demi memenangkan kontrak taruhan tertentu.
Perseteruan ini berakar pada perbedaan pandangan mengenai otoritas pengawasan pasar. New Jersey berupaya menentukan apakah platform seperti Kalshi seharusnya berada di bawah regulasi negara bagian atau badan federal seperti Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Di sisi lain, Kalshi bersikeras menolak regulasi yang terfragmentasi. Juru bicara perusahaan, Dani Lever, menyatakan bahwa bisnis mereka tidak mungkin diatur oleh 50 regulator negara bagian yang berbeda di seluruh Amerika Serikat.
Sebanyak 39 negara bagian dan District of Columbia juga telah bergabung dalam barisan pendukung New Jersey. Mereka menyebut ketidakjelasan wewenang antara CFTC dan otoritas daerah telah memicu perang wilayah regulasi yang membutuhkan ketetapan final dari Mahkamah Agung.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Mahkamah Agung akan menerima permohonan peninjauan kasus tersebut. Kalshi kini memiliki waktu hingga 9 November untuk memberikan tanggapan resmi terkait isu yurisdiksi, perlindungan konsumen, dan kontrak yang dianggap dapat dimanipulasi.
Situasi ini menciptakan ketidakpastian hukum yang luas bagi industri pasar prediksi. Jika pengadilan memutuskan untuk campur tangan, hal tersebut akan menjadi preseden besar bagi cara Amerika Serikat mengatur platform taruhan masa depan.
Pengawasan terhadap pasar prediksi memang tengah meningkat di Amerika Serikat. Sebelumnya, otoritas di New York juga melayangkan gugatan kepada Polymarket, platform pasar prediksi lain, atas tuduhan menjalankan bisnis perjudian ilegal.
Secara mendasar, NFL merasa perlu adanya standar keamanan yang lebih kuat yang saat ini dinilai belum memadai dari pihak CFTC. Tanpa campur tangan Mahkamah Agung, sengketa wewenang antara pusat dan daerah ini dikhawatirkan akan terus memicu konflik regulasi yang berkepanjangan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













