Perbedaan Internet Fiber vs Kabel: Mana Koneksi yang Paling Pas?

Persaingan teknologi internet fiber vs kabel broadband terus menjadi perhatian pengguna yang membutuhkan koneksi stabil. Meskipun serat optik menawarkan kecepatan simetris yang lebih tinggi, teknologi kabel tembaga lama masih mampu memenuhi kebutuhan digital harian sebagian besar masyarakat.
Perbedaan utama kedua teknologi ini terletak pada media transmisi data serta efisiensi hantaran sinyalnya.
Internet fiber optic memanfaatkan untaian kaca atau plastik halus untuk mengalirkan data menggunakan impuls cahaya. Teknologi modern ini mampu menembus kecepatan unduh dan unggah hingga 1.000 Mbps atau 1 Gbps secara simetris. Kerugian daya sinyal pada jaringan fiber juga sangat minim bahkan untuk jarak jauh.
Sementara itu, internet kabel menggunakan jaringan televisi kabel berjenis koaksial berbahan dasar tembaga. Data ditransmisikan melalui sinyal listrik yang rentan terhadap hambatan frekuensi serta gangguan cuaca ekstrem.
Kecepatan unggah pada jaringan kabel koaksial umumnya jauh lebih lambat dibanding kecepatan unduhnya.
Ketimpangan ini terjadi karena infrastruktur kabel koaksial awalnya dirancang untuk mengirimkan siaran TV satu arah ke konsumen. Pengguna internet kabel mungkin mendapatkan kecepatan unduh 300 Mbps, namun kecepatan unggahnya sering kali terbatas pada angka 10 Mbps hingga 20 Mbps saja. Kondisi tersebut kurang ideal bagi pekerja dari rumah yang sering mengunggah berkas besar atau melakukan panggilan video berkualitas tinggi.
Dari segi latensi atau jeda pengiriman data, fiber optic mencatatkan angka yang jauh lebih rendah di bawah 10 milidetik. Latensi rendah sangat menentukan kenyamanan bermain gim daring serta komunikasi audio visual secara riil.
Meski kalah canggih, internet kabel koaksial masih memegang keunggulan signifikan dalam hal jangkauan wilayah.
Pembangunan kabel koaksial telah berlangsung selama puluhan tahun sehingga ketersediaannya meluas hingga ke pelosok. Biaya berlangganan paket internet kabel kerap ditawarkan dengan harga lebih terjangkau, berkisar antara USD 30 (sekitar Rp490.000) hingga USD 50 (sekitar Rp810.000) per bulan. Penetrasi jaringan fiber di negara berkembang seperti Indonesia juga masih terpusat di kawasan perkotaan besar.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor
















