Dampak Fisiologis Menyusui Anak hingga Usia Dua Tahun pada Tubuh Ibu

Menyusui anak hingga usia dua tahun merupakan sebuah perjalanan yang menuntut ketahanan fisik dan emosional luar biasa bagi seorang ibu. Rutinitas panjang ini memicu serangkaian adaptasi fisiologis yang signifikan pada tubuh, sebuah aspek krusial yang perlu dipahami oleh para ibu dan keluarga.
Perubahan hormon langsung terjadi sejak masa awal pascapersalinan. Kadar progesteron mengalami penurunan drastis, sementara hormon prolaktin dan oksitosin melonjak secara signifikan guna mendukung produksi ASI yang berkelanjutan.
Julie Matheney, MS, CCC-SLP, IBCLC, pendiri LA Lactation, LLC, sebuah pusat konsultan laktasi di Los Angeles, menjelaskan bahwa tubuh pada periode ini berfokus pada pemulihan sambil memprioritaskan pasokan susu.
"Inilah alasan mengapa periode awal pascapersalinan sering kali terasa intens secara fisik maupun emosional," kata Matheney, menegaskan beban ganda yang harus ditanggung ibu pascamelahirkan.
Memasuki minggu ke-6 hingga ke-12 setelah melahirkan, ibu biasanya mulai merasakan peningkatan kestabilan emosi dan energi. Pada tahap ini, produksi oksitosin mulai berproduksi secara lebih stabil, dan kadar prolaktin berangsur turun mendekati tingkat normal. Hal ini menandai pergeseran tubuh menuju ritme yang lebih efisien dalam proses laktasi.
"Banyak ibu menyadari peningkatan energi dan kestabilan emosi pada tahap ini karena tubuh keluar dari fase awal yang intens dan masuk ke dalam ritme yang lebih efisien," ujar Matheney.
Saat anak menginjak usia dua tahun, proses laktasi umumnya berjalan jauh lebih efisien dibandingkan fase awal yang sarat tuntutan. Kandungan antibodi dalam ASI pun terus memberikan perlindungan sistem kekebalan tubuh yang esensial bagi balita yang masih rentan terhadap berbagai penyakit.
"Dari perspektif fisiologis, menyusui balita memberikan beban yang jauh lebih ringan pada ibu dibandingkan menyusui bayi baru lahir, menjadikan laktasi jangka panjang sebagai kondisi pemeliharaan daripada periode dengan tuntutan biologis yang tinggi," tutur Matheney.
Matheney menambahkan bahwa anggapan proses menyusui selalu menguras energi ibu secara ekstrem merupakan pandangan yang kurang tepat. Ia menekankan bahwa ada banyak faktor lain yang sering kali menjadi pemicu kelelahan ibu.
"Karena itu mengabaikan pemicu kelelahan yang jauh lebih besar, seperti kurang gizi, kurang tidur kronis, stres, serta beratnya beban mental dalam mengasuh anak," ucap Matheney. Di Indonesia, faktor-faktor ini sering kali diperparah oleh kurangnya sistem pendukung dan tekanan sosial terhadap ibu.
Meskipun tubuh telah beradaptasi secara luar biasa, rasa lelah yang terakumulasi akibat pengasuhan tetap menjadi tantangan nyata. Nadine Rosenblum, Koordinator Perinatal Lactation Program di The Johns Hopkins Hospital, mengingatkan bahwa pengasuhan anak secara alami memang menguras energi.
Pandangan senada disampaikan oleh ginekolog asal Orange County, AS, dr. David Ghozland, mengenai dampak jangka panjang dari rutinitas menyusui dan pengasuhan. Ia menyoroti kompleksitas kelelahan yang dialami ibu.
"Pada batas satu hingga dua tahun, kita tidak sekadar berbicara tentang kalori yang dibutuhkan untuk memproduksi ASI, kita berbicara tentang utang tidur yang terakumulasi dan kelelahan fisik karena siaga 24/7 selama setahun atau lebih," kata dr. Ghozland.
Meskipun frekuensi menyusu balita berkurang menjadi hanya satu atau dua kali sehari, rangsangan tersebut tetap memicu produksi prolaktin. Hormon prolaktin inilah yang secara langsung menekan kadar hormon estrogen dalam tubuh ibu.
"Sekalipun bayi hanya menyusu sekali atau dua kali sehari pada batas waktu dua tahun, tindakan menyusui menjaga kadar prolaktin tetap tinggi, dan prolaktin sangat bagus untuk ASI, tetapi ia menekan estrogen," jelas dr. Ghozland.
Rendahnya kadar estrogen ini berpengaruh langsung pada penurunan tingkat energi harian yang dirasakan ibu, menyebabkan rasa letih berkepanjangan dan berdampak pada suasana hati.
"Semua ini untuk mengatakan bahwa meskipun tubuh adalah mesin luar biasa yang dirancang untuk menyusui, kita harus mengakui bahwa menyusui jangka panjang tidak berarti dilakukan tanpa usaha keras," pungkas dr. Ghozland. Dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk suami dan keluarga besar, menjadi krusial untuk memastikan ibu dapat menjalani proses ini dengan lebih baik.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor












