5 Kebiasaan Orang Tua Tanpa Sadar yang Memicu Gangguan Kecemasan pada Anak

Gangguan kecemasan kini tidak lagi menjadi isu tunggal bagi orang dewasa, melainkan mulai menyasar kelompok usia anak dan remaja.
Data statistik global menunjukkan bahwa sebanyak 20,5 persen anak dan remaja di berbagai belahan dunia hidup dengan kondisi kecemasan. Fenomena ini sering kali luput dari deteksi dini karena manifestasi gejalanya sangat bervariasi pada setiap individu.
Psikolog di Clay Center for Young Healthy Minds, Khadijah Booth Watkins, menjelaskan bahwa tanda-tanda kecemasan bisa muncul melalui keluhan fisik seperti sakit perut atau detak jantung yang meningkat. Di sisi lain, beberapa anak justru menunjukkan respons emosional berupa perilaku manja, tantrum, hingga kecenderungan mengisolasi diri dari lingkungan sosial.
Terdapat lima perilaku orang tua yang secara tidak disadari justru memperburuk kondisi psikologis buah hati. Salah satu kebiasaan yang sering terjadi adalah upaya melindungi anak dengan cara menjauhkan mereka dari situasi yang dianggap menakutkan.
Psikolog anak Laura Linn Knight berpendapat bahwa kebiasaan tersebut justru melanggengkan siklus ketakutan, alih-alih membangun ketahanan mental anak. Seharusnya, orang tua berperan sebagai pendukung yang memberikan rasa aman saat anak memberanikan diri menghadapi tantangan.
Selain itu, ketidakmampuan orang tua dalam mengelola stres pribadi juga berkontribusi besar terhadap kondisi mental anak. Anak cenderung merekam bahasa tubuh dan respons emosional orang tua di lingkungan rumah.
Watkins menegaskan bahwa orang tua wajib menjadi teladan dalam mengatasi masalah dengan cara yang sehat. Ketika kecemasan orang tua tidak terkendali, anak secara tidak langsung akan menangkap sinyal ketakutan dan menirunya.
Kebiasaan ketiga yang perlu diubah adalah sikap menghindari percakapan mengenai emosi negatif. Psikolog anak Ann-Louise Lockhart menyarankan agar orang tua justru membuka ruang dialog yang nyaman bagi anak untuk mengekspresikan kekhawatiran mereka.
Validasi terhadap perasaan anak menjadi langkah awal dalam membangun kesehatan emosional yang baik. Dengan mendengarkan tanpa menghakimi, anak akan merasa lebih tenang dan mampu mengelola gejolak perasaan mereka sendiri.
Selanjutnya, peringatan berlebihan yang diberikan orang tua juga kerap menimbulkan efek kontraproduktif. Peringatan yang konstan justru menanamkan persepsi bahwa dunia luar adalah tempat yang selalu penuh dengan ancaman bahaya.
Psikolog klinis Jenny Yip menyarankan orang tua untuk memberikan penjelasan logis mengenai alasan sebuah tindakan dilarang. Dialog terbuka mengenai risiko akan membantu anak berpikir kritis dan memahami batasan keamanan secara mandiri.
Terakhir, fokus pada hasil prestasi yang berlebihan sering kali menciptakan beban mental yang berat bagi anak. Memuji kesuksesan tanpa menghargai proses kerja keras dapat memicu kecemasan hebat saat anak gagal mencapai target.
Memberikan apresiasi pada setiap usaha yang telah dilakukan anak jauh lebih bermanfaat untuk membangun kepercayaan diri. Pola asuh yang mendukung proses belajar akan membuat anak lebih tangguh dalam menghadapi hambatan di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor











