Studi Terbaru Sarankan Frekuensi Liburan Dua Bulan Sekali untuk Cegah Stres

Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis Cureus mengungkapkan bahwa mengambil jeda liburan setiap dua bulan sekali efektif untuk menjaga kesejahteraan mental serta produktivitas pekerja.
Editorial yang disusun oleh Selvaraj Giridharan dan Bhuvana Pandiyan berjudul Maximizing Recovery: The Superiority of Frequent Vacations for Well-Being and Performance tersebut menyoroti bagaimana rutinitas kerja yang intensif tanpa jeda pemulihan dapat memicu penurunan performa.
Menurut para penulis, beban kerja dengan tuntutan tinggi secara konsisten akan menguras sumber daya fisik dan psikologis seseorang. Apabila tekanan tersebut terus menumpuk tanpa adanya kesempatan untuk beristirahat, hal itu akan memicu kelelahan kronis hingga stres yang signifikan bagi individu.
Konsep yang digunakan dalam studi ini mengacu pada effort-recovery theory yang menegaskan bahwa setiap orang memerlukan periode pemulihan setelah mengeluarkan tenaga untuk menuntaskan tanggung jawab pekerjaan. Dengan berlibur, tubuh dan pikiran memperoleh kesempatan untuk melakukan regenerasi secara alami.
Meta-analisis terhadap 22 penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara aktivitas liburan dengan peningkatan suasana hati serta kepuasan hidup secara keseluruhan. Selain itu, temuan lain dari 54 penelitian mengungkap perubahan nyata pada indikator fisiologis, mulai dari kualitas tidur hingga perbaikan variabilitas detak jantung.
Namun, para peneliti juga mencatat adanya fenomena fade-out effect atau penurunan manfaat setelah kembali bekerja. Data menunjukkan bahwa kesehatan mental peserta mencapai puncaknya pada hari kedelapan masa liburan, namun kemudian cenderung memudar saat rutinitas pekerjaan kembali dimulai.
Strategi liburan yang lebih sering dengan durasi singkat dinilai menjadi cara paling efisien untuk menjaga proses pemulihan agar tetap konsisten sepanjang tahun. Penulis menyarankan setiap pekerja untuk menjadwalkan jeda istirahat setiap delapan minggu untuk mencegah akumulasi stres.
Meskipun demikian, rekomendasi ini tidak bersifat kaku atau harus diikuti sebagai kewajiban medis yang mutlak. Kualitas waktu selama berlibur tetap menjadi faktor penentu utama dalam efektivitas pemulihan.
Peneliti menekankan pentingnya benar-benar memutuskan komunikasi terkait pekerjaan agar proses pemulihan berjalan optimal. Berbagai aktivitas seperti menikmati alam, menekuni hobi, berolahraga, hingga terlibat dalam kegiatan budaya sangat disarankan untuk mengisi waktu libur tersebut.
Dengan menerapkan pola istirahat yang terukur, individu dapat mengelola beban kerja tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang. Pendekatan ini diharapkan mampu menjadi panduan bagi masyarakat dalam menyeimbangkan antara tuntutan profesional dan kebutuhan kesehatan diri sendiri.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor









